Tragedi Trisakti 12 Mei 1998
Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.
Saatku Patah Hati
Patah hati. Momen terburuk yang pasti dialami hampir setiap orang yang pernah jatuh cinta. Inilah ceritaku saat patah hati.
Info UMB 2011
Musim ujian masuk tahun ini telah datang. Ada berbagai jalur yang disediakan oleh masing-masing universitas, ada yang melalui SNMPTN Undangan, SNMPTN Tertulis, Ujian Lokal, ataupun Ujian Masuk Bersama.
Galeri Foto Final Liga Champions 2010/2011
arcelona mengukuhkan dirinya sebagai raja Eropa setelah mengalahkan Manchester United 3-1 di final Liga Champions. Stadion New Wembley menjadi saksi bisu kedigdayaan tim catalan malam itu. Berikut beberapa foto pertandingan tadi malam
Bersiaplah Menghadapi SIMAK UI
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) baru saja usai. Lebih dari 500 ribu pelajar dari berbagai pelosok nusantara bersaing untuk merebut bangku perguruan tinggi negeri (PTN)
Keegoisan Ormas Pada Penetapan 1 Syawal
Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne
- Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)
- Penanggulangan bencana
- Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
- Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)
- RUU Fakir Miskin
- RUU Kebebasan & Perlindungan beragama
- RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbangan
- RUU Jaminan produk halal
- RUU Keadilan dan kesetaraan gender
- RUU Pendidikan yang dikelola masyarakat swasta
- Lebih dekat dibanding negara-negara lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )
- Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan kalau meminjam kata-katanya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”
- Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
Islam Terpojok, Kemana Umat Islam?
Terima Kasih Cicak, Selamat Hari Bumi
Saya Lebih Takut Senior daripada Tuhan
Selagi kami asik dengan masing-masing kesibukan, berkumandanglah suara adzan maghrib. Sebuah panggilan Allah untuk umatnya. Namun, kami tidak segera beranjak menuju mushalla yang berada disebelah tongkrongan kami untuk memenuhi panggilan itu. Kami tetap melanjutkan kegiatan kami.
Soal makan, bisa ditahan dulu.
Soal haus, bisalah ditahan juga.
Soal rokok, tiada putus terus mengalir.
Tiba-tiba ada seseorang datang.
"Eh, ada yang manggil tuh?"
"Siapa?", jawab kami.
"Dipanggil Allah, lo semua disuruh ke mushalla. Sholat katanya."
"Ah, ntar aja ah. Masih banyak nih tugasnya. Ntar gak selesai. Sholat kan bisa nanti-nanti"
"Ah, ngapain sih solat. Gak bikin kaya ces."
"Astaghfirullah, ayo dong sholat dulu. Jangan lupain ibadah dong."
"Iya iya, ntar gue solat."
Tiba-tiba datang salah seorang teman kami,
"Eh, dipanggil senior tuh. Disuruh kebelakang semuanya."
"Ha? ngapain?",jawab kami.
"Ya disuruh aja kebelakang."
Kami pun bergegas memenuhi panggilan itu.Kemudian orang itu berkata,
"Lha itu senior yang manggil kok langsung gerak?"
"Justru ini yang lebih penting bos. Kalau gak cepat-cepat, ntar mereka kecewa karena kita lama banget kesananya. Bisa-bisa diomelin karena lama banget datangnya. Bisa bahaya. Kalau sholat kan hukumannya ntar-ntar waktu di akhirat, masih lama."
The Power of Football
"Sebelum pertandingan, seluruh keluarga besar sepak bola di Eropa harus berdiri dan bersatu di dalam stadion pekan ini. Kita harus menunjukkan simpati mendalam dan dukungan penuh kepada masyarakat Jepang."
Inilah perintah Presiden UEFA Michel Platini yang diwujudkan dalam bentuk a minute's of silence sebelum laga Liga Champion dan Liga Europa tengah pekan ini.
Platini mengajak anggotanya terus mendukung masyarakat Jepang agar tetap kuat menghadapi tragedi yang mengerikan itu.
"With you Japan". Melalui layar kaca, sungguh kita bisa merasakan kekuatan sepak bola yang menembus segala batas. Pertandingan UEFA Champions League yang dimainkan Selasa dan Rabu, serta UEFA Europa League pada Kamis yang di gelar di Benua Eropa ditujukan untuk mendukung korban tsunami dan gempa bumi di negara Kaisar Akihito.
Di Stadion Anfield, ketika Liverpool menjamu Braga dalam duel Liga Europa (17/3), kita bisa melihat berbagai spanduk dan syal bertuliskan tanda simpati kepada Jepang.
Makna kalimat sakti "You'll Never Walk Alone" pun bak janji kepada masyarakat Jepang bahwa mereka tidak sendirian menanggung derita.
Melalui sepak bola, kita diajak untuk merasakan duka mendalam korban bencana di Negeri Matahari. Seperti halnya sumbangan aktris Hollywood Sandra Bullock sebesar 1 juta dolar Amerika, dunia diminta bersatu meringankan beban masyarakat di sana.
Gempa bumi berkekuatan 9 skala richter yang menimbulkan gelombang tsunami mencapai 10 meter bukan perihal biasa. Duka Kota Sendai jelas mengingatkan kita akan bencana serupa yang melanda Aceh dan Nias pada Desember 2004 dengan kekuatan 9,3 skala richter.
Kepedulian sepak bola terhadap bencana kemanusiaan menunjukkan kekuatan lain olah raga ini. Sadar turnamen miliknya ditonton banyak manusia di muka bumi, UEFA memainkan peran sosial dengan mendorong kepedulian terhadap korban bencana tsunami di Jepang.
Sepak bola telah berulang kali membuktikan mampu menggerakkan orang banyak, menyatukan mereka, baik itu pria dan wanita, anak-anak dan orang tua. Football sudah menunjukkan kekuatan team work, dan kebersamaan itu dapat menghadirkan persatuan serta perdamaian.
Masih ingat kerusuhan di negara ini, khususnya di Ibu Kota, pada Mei 13 tahun lalu? Diawali krisis finansial dan tragedi Trisakti, Jakarta seperti kota mati dan penuh dengan kekerasan. Duka menyelimuti bangsa kita, isak tangis dan teriak minta tolong bak nyanyian Ibu Pertiwi.
Tapi lihatlah apa yang sepak bola berikan untuk mengobati luka kita. Sejak 10 Juni hingga 12 Juli 1998, FIFA menyediakan penawar sakit bernama Piala Dunia yang digelar di Prancis. Memang tidak menghilangkan sakit atau mengembalikan nyawa yang hilang, tapi sepak bola sungguh meredam gejolak yang bisa menambah parah Indonesia.
Sontak, perhatian yang terpusat ke Prancis menjadi alat perekat bangsa yang sungguh rentan terpecah-belah.
Sejumlah tokoh di Republik Demokratik Kongo juga sadar apa yang sepak bola bisa berikan untuk menyatukan bangsa mereka. Perang saudara berlangsung berkepanjangan sejak 1998 telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian negara tersebut.
Sebuah badan bernama Football Inter Communautaire (FIC) mengerti betul kekuatan yang dimiliki sepak bola. Salah satu program mereka bernama "How to use the power of football to educate youth and communities."
Ratusan orang yang berbeda sikap dan paham di Kongo terbukti bisa menikmati pertandingan sepak bola secara bersama-sama dalam sebuah stadion. FIC menyatukan komunitas berbeda dengan memakai kekuatan sepak bola.
Oh ya, seperti apa jawaban Anda bila ditanyakan, "Apakah satu dari sedikit kesamaan antara anak-anak Arab dan yahudi?"
Pernah mendengar nama Forsan Hussein? Anak lelaki ini lahir dan dibesarkan di lingkungan Arab yang tertutup di Israel (sebanyak 20% populasi Arab ada di Israel). Ia hanya mengerti bahasa Arab dan berteman hanya dengan anak-anak di lingkungannya yang tertutup itu.
Suatu ketika, saat Forsan berusia 10 tahun, ia keluar dari kelompoknya dan bertemu anak-anak Yahudi yang bercakap-cakap dengan bahasa yang tak ia mengerti.
Tapi anak-anak itu dengan cepat menyatu dalam "perbincangan" memakai bahasa sepak bola. Ya, bermain dengan si kulit bundar menghancurkan perbedaan itu.
"Ketika anak-anak bermain dalam sebuah tim, mengoper bola di antara mereka, saling memberi dukungan demi tujuan mencetak gol, mereka mematahkan rintangan dan membangun persahabatan kekal," ujar Forsan Hussein yang ketika dewasa bekerja di Soccer for Peace, sebuah yayasan di New York yang rutin mengorganisasikan pemusatan latihan sepak bola bagi anak-anak Arab dan Yahudi.
Bisakah Anda membayangkan setiap Sabtu keluarga Arab dan Yahudi duduk memberi dukungan kepada tim yang sama?
Itulah kekuatan sepak bola. Masih ingat cerita bagaimana Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela memakai football sebagai alat perdamaian dan pemersatu bangsa?
Lalu, kenapa energi dan perhatian kita belakangan ini terkuras oleh pertikaian di dunia sepak bola Tanah Air? Kenapa the power of football di Indonesia pemakaiannya berbeda?
Sepakbola Kita Harapan, Bukan Kematian
"Bung, apakah sepak bola kita menuju kematian?"
Begitu sebuah pertanyaan yang datang dari pembaca BOLA pada Kamis malam kemarin. Pemilihan kata-kata yang sungguh tak terbersit dalam benak saya. Masak sih sepak bola kita menuju kematian?
Tentu tak salah bila ingatan saya kembali kepada sosok Bill Shankly. Mantan pesepak bola era 1920 dan 30-an yang namanya melambung ketika menjadi pelatih Liverpool (1959-74), punya pandangan unik tentang sepak bola.
"Sebagian orang meyakini sepak bola itu tentang hidup dan mati. Saya sungguh kecewa dengan sikap itu. Saya pastikan pada Anda, sepak bola lebih penting dari itu."
Wuih, terkesan menyeramkan, bukan? Benarkah sepak bola lebih vital dari hidup dan mati manusia?
Ketika sepak bola sudah menjadi bagian dalam kehidupan seseorang, makna olah raga ini memang sungguh dahsyat. Sampai-sampai seorang Hugo Sanchez, legenda sepak bola asal Meksiko yang pernah membela Real Madrid, mengajak kita memuja penemu football.
Pernah mendengar nama Anthony Burgess? Dia seorang penulis asal Inggris yang juga mencoba mengaitkan posisi olah raga ini dengan Sang Pencipta. Begini katanya, "Kita punya lima hari untuk bekerja. Hari ketujuh adalah hari Tuhan, sedangkan hari keenam merupakan milik sepak bola."
Lalu, kematian dalam sepak bola membawa saya mengenang nama-nama seperti: Andres Escobar, Marc-Vivien Foe, Robert Enke, Antonio Puerta, hingga Abdon Porte.
Abdon Porte? Bagi kita, sosok ini jelas tak setenar nama-nama yang meninggal dunia terkait sepak bola. Porte lahir tahun 1880 di Montevideo, Uruguay. Semasa membela tim Nacional (1911-18), Porte dikenal sebagai seorang gelandang brilian.
Pers di Uruguay menjulukinya sebagai pemain dengan kaki tiga berkat kekuatan kepalanya. Melihat Porte mulai merangsek maju, bek-bek lawan disebut ketakutan seperti burung melihat kucing datang hendak menerkam.
Porte adalah sosok sederhana, rendah hati, dan tidak bisa menulis. Tapi sebagai seorang pemain sepak bola di Nacional, dia adalah bintang andalan dengan pendapatan 50 pesos, jumlah yang besar saat itu.
Dia kemudian menjadi idola di mata pendukung sepak bola Uruguay setelah membantu negara tersebut menjuarai edisi kedua Copa America (1917) yang digelar di Kota Montevideo, Uruguay.
Tapi, Porte sulit menerima hukum alam. Setelah melakoni ratusan pertandingan bersama Nacional, penampilannya mulai menurun. Kerap kali ia menerima siulan cemooh penonton.
Abdon Porte seperti jatuh dari langit. Ketika pelatih Nacional mulai rutin menempatkannya di bangku cadangan, Porte tak siap melihat orang-orang di sekitar berbisik-bisik membicarakan dirinya, termasuk rekan sendiri.
Ketika usianya belum terlalu senja untuk ukuran sepak bola waktu itu, 38 tahun, ia tak siap melihat kemuliaan berlalu melewatinya tanpa sempat menyapa.
Aneh bin ajaib, setelah lama menjadi pemain cadangan, pada 5 Maret 1918, saat melakoni laga ke-207 untuk Nacional, pelatih mengembalikan Porte ke lapangan Estadio Gran Parque Central. Hari itu ia bermain baik dan membawa Nacional menang 3-1. Tapi keesokan paginya, tubuh Porte ditemukan tergeletak tak bernyawa bersama pistol di dekat tubuhnya.
Tengah malam usai pertandingan, ketika hujan deras dan petis menyambar, Porte memutuskan kembali ke Estadio Gran Parque Central dan mengakhiri hidup di lapangan yang telah membesarkan namanya.
Dalam, surat wasiatnya, pria yang mengawali karier sepak bola profesionalnya di klub Colon itu menyebut tak akan pernah melupakan masa-masa indahnya bersama Nacional dan timnas Uruguay.
Sepak bola telah mengantar Abdon Porte ke panggung mewah yang tak pernah dibayangkannya. Namun semua keindahan dan keagungan itu tak sanggup dilepas dan berakhir pada sebuah keputusan bodoh: bunuh diri.
Kalau sudah begini, bukankah ucapan Bill Shankly menjadi penuh teka-teki?
Eh, ngomong-ngomong, kenapa sih si pembaca BOLA tadi punya pemikiran tentang kematian sepak bola Indonesia?
Tak perlu heran bila ia mengaitkan dengan situasi dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini. Sang pembaca adalah penduduk Kota Pekan Baru, tempat berlangsungnya Kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding (25-27 Maret).
Dalam SMS yang ia kirimkan, terbersit nada khawatir dan pasrah terhadap masa depan sepak bola di Tanah Air. Ia takut, kegembiraan yang selama ini didapat setiap menyaksikan pertandingan sepak bola berubah menjadi tontonan memuakkan yang menyajikan pertarungan kepentingan sekelompok orang.
"Awak ni," demikian ia menyebut dirinya, "tak peduli dengan spanduk-spanduk kontra dan pro pengurus sekarang. Situasi ini semakin menjijikkan. Lama-lama sepak bola kita main di atas kuburan!"
Hmm, sulit bagi saya membangkitkan kembali kepercayaannya kepada tujuan sepak bola lahir di dunia ini. Sebuah kalimat ampuh saya sampaikan melalui telepon seluler yang malam itu baterainya sudah lemot, "Football is about hope. Jangan pernah berhenti berharap. Jangan pernah putus asa menikmati kemurnian drama-drama sepak bola."
Kapan hal itu akan terjadi di Indonesia? Ah, untungnya kalimat terakhir saya kepada rekan di kota kelahiran saya itu diakhiri dengan kalimat, "Maaf, baterai HP sudah mau habis nih."
sumber: bolanews.com
First Love
Apa itu Cinta
Nabi Sulaiman dan Semut
Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman a.s. melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t. penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. YaAllah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah s.w.t.
Generasi Perokok
Nurdin Halid yang Membanggakan





