Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Saatku Patah Hati

Patah hati. Momen terburuk yang pasti dialami hampir setiap orang yang pernah jatuh cinta. Inilah ceritaku saat patah hati.

Info UMB 2011

Musim ujian masuk tahun ini telah datang. Ada berbagai jalur yang disediakan oleh masing-masing universitas, ada yang melalui SNMPTN Undangan, SNMPTN Tertulis, Ujian Lokal, ataupun Ujian Masuk Bersama.

Galeri Foto Final Liga Champions 2010/2011

arcelona mengukuhkan dirinya sebagai raja Eropa setelah mengalahkan Manchester United 3-1 di final Liga Champions. Stadion New Wembley menjadi saksi bisu kedigdayaan tim catalan malam itu. Berikut beberapa foto pertandingan tadi malam

Bersiaplah Menghadapi SIMAK UI

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) baru saja usai. Lebih dari 500 ribu pelajar dari berbagai pelosok nusantara bersaing untuk merebut bangku perguruan tinggi negeri (PTN)

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Keegoisan Ormas Pada Penetapan 1 Syawal


Mungkin soal perbedaan 1 Syawal adalah sesuatu yang jamak terjadi di Indonesia, jika tidak bisa dikatakan wajar atau lumrah. Namun para pakar sains murni yang berparadigma positifistik dan strukturalis, hanya melihat persoalan tersebut dari segi normatif saja, yakni persoalan teknis penghitungan atau kriteria bulan. Akan tetapi jika berbicara umat Islam di Indonesia tak dapat dilepaskan dari yang namanya gerakan sosial politik ormas yang sejak era sebelum kemerdekaan panji-panji ormas keagamaan telah berkibar di tanah air, bahkan kemudian ada yang sampai memasuki ranah politik, mendirikan partai, dsb.


Tiap ormas mempunyai jama’ah tersendiri dan tiap jama’ah mengikuti patron yang ada dalam ormas keagamaan yang diikutinya. Cara membaca umat Islam tak bisa dilepaskan dari eksistensi ormas keagamaan, khususnya keislaman. Contoh sederhananya kalau kita lihat wawancara di televisi, setiap kali ada perbedaan penetapan 1 Syawal, pasti yang lebih dahulu dikaitkan adalah pertanyaan oleh pihak stasiun televisi, apakah ormas A dan B berbeda, ataukah sama, padahal konsekuensinya sudah sama-sama diketahui oleh masyarakat Indonesia bahwa di era reformasi seperti sekarang tidak bisa lagi diterapkan tindakan represif seperti masa Orde Baru, tiap ada yang berbeda langsung diturunkan aparat.

Namun mengapa masyarakat terkesan tidak bisa menerima perbedaan itu dan terus meributkan hal demikian. Apakah orang Indonesia tidak bisa belajar sedikit dewasa, atau pertentangan semacam ini ada karena pada tingkat elit patron juga ada pertentangan yang diam-diam terus dilestarikan. Contohnya kalau kita lihat soal pertentangan penetapan 1 Syawal 1432 H. Nampak sekali semua media televisi dan tokoh-tokoh patron atau figur yang diwawancarai mengarah menyerang Muhammadiyah. Bahwa metode yang digunakan oleh Muhammadiyah berbeda dengan metode yang digunakan mayoritas ulama, baik lokal maupun internasional.

Sementara di lain sisi Muhammadiyah kelihatan beda sendiri, walaupun selain Muhammadiyah ada pula organisasi tarikat yang merayakan hari raya Idul Fitri berbarengan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah. Mengapa Muhammadiyah kelihatan bandel ini dikarenakan adanya ketimpangan komunikasi politik dalam tataran pengambil kebijakan, utamanya di tingkat Kabinet. Secara keseluruhan, dapat dilihat dalam kabinet SBY siapa saja mentri-mentri dari kalangan Muhammadiyah, dan siapa-siapa dari kalangan NU. Kalau mau lebih spesifik, dalam sejarah kabinet di Republik Indonesia, biasanya ada keseimbangan kalau mentri Agamanya NU, maka mentri Pendidikannya dari Muhammadiyah. Atau pun sebaliknya, namun kali ini tiba-tiba pattern atau pola tak tertulis itu memudar dikarenakan menjamurnya ormas-ormas keagamaan yang siap menyaingi dua ormas yang katanya terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.

Walaupun tidak otomatis sama antara ormas dan parpol, tetapi siapa saja boleh survei mengenai orang-orang di tubuh parpol PKB, apakah sebagian besar termasuk warga NU atau bukan. Demikian pula dengan PAN dan Muhammadiyah. Selain itu saat ini kabinet pemerintah SBY pun diisi oleh para loyalisnya sehingga kalkulasi politiknya mungkin lebih condong ke NU, melihat bagaimana partai afiliasi NU di parlemen yakni PKB sedang adem ayem dengan partai penguasa di mana SBY bernaung, yakni Demokrat. Pemaparan ini hanya mencoba untuk melihat fenomena perbedaan penetapan 1 Syawal dengan cara baca dan perspektif berbeda yang tidak hanya normatif sebagaimana sering kita saksikan belakangan ini. Demikian pula tidak ada tendensi atau kecenderungan berpihak pada salah satu ormas keagamaan mana pun.

sumber: kompasiana

Laporan Dialog Antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia dengan Komisi VIII DPR-RI di Melbourne



Tulisan ini ditulis oleh rekan saya, Teguh Iskanto ketika menghadiri dialog antara Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dengan Komisi VIII DPR-RI di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne pada tanggal 30 April 2011, Pukul 20.00 waktu setempat.

Pembuka:
Setelah bertahun-tahun menjadi WNI akhirnya kesampaian juga saya mendapat kesempatan untuk dapat bertatap muka dan berdiskusi dengan para wakil rakyat. Terlebih tidak terasa sudah 9 tahun 10 bulan saya meninggalkan Indonesia, dan mungkin kesempatan ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk bisa bertemu & bertatap muka langsung dengan para pejabat negara.

Setelah terburu-buru nyupir karena takut terlambat, akhirnya saya beserta istri sampai juga  di KJRI sekitar pukul 18:15 AEST, walhasil sesampainya di KJRI terlihat jelas pihak konsulat sudah mempersiapkan acara dengan matang. Makanan, kursi-kursi tamu beserta meja panelis untuk pembicara, semua sudah disiapkan dengan rapi.  Waktu sudah menunjukan pukul 18:19 tapi belum juga terlihat tanda-tanda kedatangan para tamu yang ‘terhormat’, padahal di dalam undangan tertulis acara akan dimulai pukul 18:00.

Menunggu sang tamu datang :
Sambil menunggu akhirnya saya menggunakan waktu yang ada untuk sholat maghrib, bercengkerama & beramah tamah dengan kawan-kawan. Di bagian depan terlihat banyak kamera & video dari beberapa media komunitas Indonesia di Melbourne. Berikut ada juga perwakilan Radio ABC Australia yang datang untuk meliput. Sementara beberapa kawan-kawan dari PPIA sudah siap dengan siaran internet radio langsung yang di sebarkan ke seluruh dunia via PPI Internasional, semua alat-alat sudah diset & disiapkan.

Seputar berita-berita negatif yang ada di Internet tentang rencana studi banding anggota dewan, saya sebelumnya juga sudah diingatkan oleh istri dan seorang kawan untuk tidak menghakimi para anggota dewan. “Berikan mereka kesempatan utk menjelaskan alasan mereka, dan jangan pojokan mereka, mungkin ada sesuatu yg kita tidak tahu” , begitu saran yang saya dapatkan dan sayapun setuju untuk menjadi lebih netral dan objektif, lagi pula “who are we to judge people anyway …”
13044058042022829676
Suasana di Konsulat Jenderal RI sesaat sebelum dialog dimulai. Courtesy of Dirgayuza Setiawan.
Akhirnya sang tamu datang juga :
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang tamu yang di tunggu-tunggu datang juga, secara persis saya tidak melihat jam mungkin sekitar jam 18:50-19:00. Semua hadirin tampak antusias dan tidak terasa suasana ruangan Bhinneka di KJRI Melbourne menjadi tampak hidup karena semua orang mulai terlihat antusias. Beberapa anggota dewan bahkan ada yang mulai memperkenalkan diri secara pribadi & menyapa para hadirin satu persatu. Beberapa juga ada yang beramah tamah dengan staf KJRI. Setelah beramah tamah sekitar 5-10 menit, staff KJRI mengumumkan untuk memulai acara dengan hidangan makan malam terlebih dahulu. Pada mulanya saya sempat berpikir, wah ini sepertinya strategi dari KJRI untuk meredam pertanyaan pertanyaan dari para hadirin, dengan membuat mereka kenyang dan mengantuk setelah makan … :) he he he
13044035211110947843
Rombongan Anggota Komisi VIII DPR-RI di KBRi Canberra. Sumber: www.kemlu.go.id

Acara Dimulai :
Setelah menikmati santap malam, akhirnya acara dibuka oleh Acting Consul General, Bapak Hadisapto Pambrastoro mewakili KJRI Melbourne. Bapak Hadi mencoba memaparkan komposisi masyarakat Indonesia di Melbourne, yang lebih dari 50% umumnya diisi oleh pelajar. Sebelumnya juga hadirin diingatkan bahwa acara tanya jawab hanya akan dibatasi sampai pukul 21:00 mengingat jadwal kesibukan anggota tim komisi VIII keesokan harinya (which is private dinner bersama staff Konsulat jenderal RI. Kayak gini dibilang sibuk?).

Sementara dari pihak komisi VIII diwakili oleh juru bicaranya Bapak Abdul Kadir Karding (PKB), beliau memperkenalkan anggota tim studi banding satu persatu dengan komposisi 7 orang anggota duduk di meja panelis yang terdiri dari perwakilan PDI-P (Ina Ammania), GOLKAR (Drs. H. Zulkarnaen Djabar), PKS (Ahmad Zainuddin, LC), PKB (H. Abdul Kadir Karding, SPI - Ketua Rombongan & Pembicara), GOLKAR (Dra. Hj. Chairun Nisa, MA), Hanura (Dra. Hj. Soemintarsih Muntoro, M.Si), dan Demokrat (Dra. Hj. Ratu Siti Romlah, M.Ag). Jumlah total  keseluruhan anggota komisi VIII yang datang pada studi banding kali ini sekitar 11 orang.

Beliau juga mencoba memaparkan, bidang kerja komisi VIII yang umumnya berkonsentrasi di bidang :
  • Keagamaan ( mencakup didalamnya adalah : agama, pendidikan agama, masalah ahmadiyah, pluralisme & terorisme)

  • Penanggulangan bencana

  • Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak

  • Kementerian sosial (diantaranya : masalah sosial, lansia, kemiskinan, orang cacat & anak jalanan)

Di salah satu kesempatan beliau juga menjelaskan tujuan kedatangan ke Australia adalah untuk belajar mengenai upaya penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah  menyusun konsep rancangan untuk :
  • RUU Fakir Miskin

  • RUU Kebebasan & Perlindungan beragama

  • RUU ZIS (Zakat Infaq Shadaqah) - pengurangan pajak terhadap donasi/sumbangan

  • RUU Jaminan produk halal

  • RUU Keadilan dan kesetaraan gender

  • RUU Pendidikan yang dikelola masyarakat swasta
Beliau juga menjelaskan mengapa Australia adalah negara yang dituju :
  • Lebih dekat dibanding negara-negara lain ( sehingga bisa mengurangi biaya )

  • Australia memiliki sistem jaminan sosial yang terstruktur dan mapan kalau meminjam kata-katanya Bpk Karding : “Sistem yg luar biasa”

  • Salah satu negara yang sukses menerapkan prinsip multikulturalisme sampai pada tingkat pendidikan anak-anak.
  • 1304405968379346989
    Ketua Rombongan Komisi VIII, Bapak Abdul Kadir Karding memperkenalkan diri dan rombongan. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.

Sesi Pertanyaan :
Setelah mendengar paparan tadi, saya cukup mengakui kalau Bapak Abdul Kadir Karding (PKB) , memiliki kemampuan komunikasi yang hebat, beliau mencoba ‘meredam’ suasana hadirin yang ada di ruang Bhinneka dengan ’lelucon-lelucon’ dan dengan paparan gaya bahasa yang lugas, tenang dan terstruktur. Mungkin inilah sebabnya beliau terpilih menjadi ketua rombongan, karena kalau dari apa yang saya lihat secara pribadi beliaulah yang  memiliki kemampuan ‘public speaking’ yang paling mencolok dibanding anggota-anggota yang lain. Karena kalau dilihat ada beberapa anggota yang hanya duduk di kursi panelis tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka (selain memperkenalkan diri), ada yang hanya mencatat  dan ada pula yang hanya sesekali saja berkomentar. Kalau dilihat memang ‘all in all’, sepertinya memang sudah menjadi tugasnya Bapak Karding untuk ‘menjinakan’ para hadirin :)

Pada saat sesi tanya jawab dimulai,  ada 3 penanya pertama (dari beberapa yg berusaha secara antusias)  :

1. Bagus Nugroho (Mahasiswa Program S3 Bidang Aeronautics Melbourne University & Nano Tech dari Oxford University)
Mengenai dana yang dikeluarkan untuk 11 anggota komisi VIII yang pergi studi banding ke Australia, menurut perhitungan Bagus, jumlah dana yang di keluarkan adalah sekitar Rp. 811 juta untuk  selama 6 hari atau sekitar US$ 5000 per orang per minggu. pertanyaannya adalah mengapa sebesar itu? bukankah itu dana yang sangat besar untuk dikeluarkan, mengingat tingkat efektifitas yang rendah dari hasil studi banding?

2. Dirgayuza Setiawan (Wakil Ketua PPIA - Mahasiswa Jurusan Media )
Yuza, mencoba menyangkal argumen Bapak Karding, yang mempertanyakan mengapa surat terbuka PPIA dikirimkan terlebih dahulu ke media dibanding langsung ke beliau : menurut Yuza, karena semua channel yang ada telah dicoba berikut mengakses website pribadi Bapak Karding yang ternyata berstatus ’suspended’. Dari website DPR-RI pun, tidak ada keterangan nomor kontak & alamat email yang bisa dihubungi. Karena itu Yuza menghubungi media untuk meminta informasi.
Seperti telah diketahui sebelumnya dalam wawancara radio Australia di Canberra, Bapak Karding mengatakan bahwa alasan anggota Komisi VIII tidak mengunjungi daerah Northern Teritory (NT) adalah karena beliau menangkap adanya “sinyal-sinyal”  keengganan dari pemerintah Australia untuk membolehkan mereka pergi  ke NT. Dikarenakan menurut beliau issue penduduk miskin Aborigin di Australia adalah issue yang sensitif apalagi untuk kunjungan perlemen asing. Pada saat yang sama Yuza mengatakan, hal yang sama tidak terjadi terhadap beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang mengadakan penilitian di NT untuk mensurvei penduduk miskin, pemerintah Australia justru membantu dengan sepenuh hati. Hal yang menjadi pertanyaan Yuza adalah, “sinyal-sinyal” seperti apakah dan bagaimana cara menginterpretasikan sinyal yang ditangkap Bapak Karding sehingga jatuh pada kesimpulan bahwa pemerintah Australia enggan mengizinkan anggota Komisi VIII DPR-RI pergi ke NT ? Terlebih daerah NT adalah daerah dengan konsentrasi penduduk miskin terbanyak di Australia.
Pertanyaan yang lain adalah, mengapa kunjungan yang dilakukan  hanya mampu menghubungi pejabat-pejabat setingkat negara bagian, tapi tidak sampai pada tingkat pemerintah federal?  DPR cenderung dianggap tidak siap dalam menyiapkan bahan-bahan dan memilih narasumber ( kurangnya koordinasi & tidak tepat sasaran )  dan kalaupun ini memang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, kenapa ada visa salah satu anggota tim Komisi VIII yang ditolak oleh pemerintah Australia ?

3. Usep Abdul Matin (Mahasiswa S3 bidang Sosiologi di Monash University)
Beliau menanyakan tentang kerukunan hidup beragama terutama masalah perlakuan pemerintah terhadap pengikut Syi’ah di Indonesia.

Sesi  Komisi VIII Menjawab ( Hadirin Mulai Gelisah/Gusar )  :
Lagi-lagi saya harus akui kelihaian Bapak Abdul Kadir Karding untuk urusan ’skill’ public speaking, sepertinya beliau menguasai betul medan & trik untuk mengulur-ulur waktu, salah satunya adalah dengan melambatkan tempo bicara, dan berbicara hal-hal yang diluar konteks pembicaraan. Hal ini menyebabkan waktu yang tersisa tinggal sedikit. Beberapa kali Dirgayuza (Wakil Ketua PPIA) menginterupsi anggota komisi VIII untuk “straight to the point” pada pertanyaan yang ditanyakan.

Salah seorang anggota Komisi VIII dalam menjawab/menanggapi pertanyaan dari Bagus Nugroho bahkan membandingkan anggaran yang diterima oleh Komisi VIII dalam studi banding kali ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan salah satu staff kementerian Australia yang katanya bisa menerima 3 kali lipat dari apa yang diterima oleh Komisi VIII. Hello!!! Australia itu kan pendapatan per kapitanya lebih besar dari Indonesia, Kira-kira sekitar US$ 55590 per tahun. Indonesia sekitar US$ 3015 per tahun (sumber wikipedia). Apa mereka itu nggak mikir ya sebelum menjawab???

Beberapa anggota dewan yang diberi kesempatan untuk menjawab memulai dengan meminta kepada kawan-kawan PPIA untuk tidak terkesan menghakimi/mengadili mereka dalam dialog kali ini. Bahkan ada yang mengalami suasana “kebatinan” (mungkin maksudnya feeling so emotional) ketika mengunjungi Australia kali ini seraya bercerita tentang beberapa anaknya yang dulu pernah bersekolah di Melbourne, Australia dan suaminya yang pernah menjadi ketua perhimpunan pelajar pada saat itu. Secara pribadi menurut saya, jawaban-jawaban yang diberikan lebih bersifat normatif dan tidak pada inti permasalahan dan cenderung berputar-putar. Apakah ini suatu kesengajaan untuk mengulur waktu? Wallahualam…Hanya Tuhan yg tahu…

Karena jawaban tidak dirasakan mengena dan berputar-putar untuk hal-hal yang tidak penting sementara waktu semakin sempit, banyak hadirin yang mulai melakukan interupsi sehingga suasana ruang Bhinneka menjadi gaduh. Tidak hanya itu beberapa sesekali sudah mulai  terdengar suara cemoohan dan kata-kata “huuuu…kecewaaaaa!!!”  dari para hadirin.

Ketika mendekati pukul 21:00, pihak KJRI berusaha untuk menutup sesi tanya jawab, dengan alasan kesibukan anggota dewan pada keesokan harinya: which is Sunday of course ..:)  bukankah adalah hak kita sebagai rakyat untuk meminta / menanyakan hal-hal yang dirasa perlu ke wakil rakyat kita di parlemen? Pada saat ini suasana semakin riuh dan sudah ada hadirin yang berteriak-teriak langsung bertanya … tanpa moderator … :) terus terang suasana sudah sedikit agak kacau pada waktu itu. Bahkan ada beberapa yang langsung meninggalkan ruangan dan langsung pulang.
1304406245706311786
Salah satu anggota Komisi VIII DPR-RI mencoba untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Mahasiswa Indonesia di Melbourne. Courtesy of: Dirgayuza Setiawan.

Here comes the Bomb Shell …
Salah satu kawan saya (pas saat sesi kacau) sempat berteriak … “Kenapa nggak pakai teleconference aja sih Pak ?” pada saat itu, Bapak Karding menjawab : “Wah itu kan teknisnya terlalu rumit … “  sontak mendengar jawaban tadi hadirin yang umumnya mahasiswa langsung tertawa … lalu ada lagi yang nyeletuk “Pak mau dibikinin account Skype sama saya nggak Pak ?”

Trus ada beberapa anggota Komisi VIII, yg mengatakan, karena keterbatasan waktu  kawan2 bisa menghubungi kami lewat email. Tapi ketika serentak kami menanyakan apa alamat email beliau, yang keluar adalah … xxxx@yahoo.com :) .  Beberapa hadirin termasuk saya tampak kesal dengan jawaban tersebut, kemudian hadirin  menanyakan: “Kami ingin alamat resmi bapak!” , dan dibalas dengan: “nanti ….nanti akan diberikan …. ”  pada saat ini penyiar radio PPI Internasional menginterupsi “Tolong disebutkan saja pak disini , jadi semua orang bisa dengar …” , bahkan dengan tantangan itupun sepertinya mereka bapak-bapak/ibu-ibu anggota Komisi VIII itu tidak tahu …apa alamat email resmi mereka …  saya lihat ada 1 orang staff ahli yang mendampingi komisi VIII sibuk bolak balik mencoba membagikan kartu nama ( yang itupun dalam kartu nama tersebut tercantum alamat imel Gmail & Yahoo ) …  ????

Karena suasana panik dan makin riuh, salah seorang ibu (staff anggota komisi VIII) berteriak, ”  KALAU ADA YANG PERLU DITANYAKAN… SILAKAN SAJA KIRIM KE ALAMAT EMAIL  : KOMISI DELAPAN AT YAHOO DOT COM.. !!!! ”  pada saat itu .. tawa hadirin langsung pecah  .. saya sendiri geleng-geleng kepala dan sudah tidak tahu mau bicara apa lagi … (selengkapnya lihat saja disini:http://www.youtube.com/watch?v=8dEjGOPfAqA&feature=youtu.be)
Ada teman yg bilang : Wah kalo gitu mah gak usah jadi anggota DPR, anak saya yg masih kecil juga udah bisa bikin email yahoo sendiri … :)

BTW: setelah acara selesai salah seorang kawan mencoba mengirim test mail (via BB) ke :
and guess what, none of them is working …!!! semua email test bouncing back ke sender , alias alamat yang diberikan tidak ada …!!!!

Lagi-lagi karena tidak puas, saya beserta istri & kawan-kawan mendekati ibu salah satu staff ahli pendamping anggota komisi VIII dalam kunjungan kerja ini, sambil menanyakan alamat resmi, saat itu beliau bilang : “Lihat aja di website DPR nanti kan ada daftar masing-masing komisi, nanti dari situ ada alamat imelnya “

Lagi lagi, kita cek via HP , dan …ternyata tidak ada (kalau tidak percaya silakan cek sendiri kewww.dpr.go.id) , kalau begini mana yang benar ? kalau yang bekerja di DPR saja  tidak tahu alamat kontak resmi yang bisa dihubungi, bagaimana dengan orang lain?? Dan jangan salah bahwa, 1 staff DPR memiliki 7 asisten (staf ahli), *Unfortunately* sepertinya tidak satupun dari ke-7  asisten beserta anggota DPR itu sendiri tahu alamat kontak resmi mereka  ??? Kalau untuk hal yang sangat mendasar saja mereka tidak kompeten, bagaimana mereka akan membela kepentingan rakyat yang akan mereka wakili ???

Bagaimana tidak, DPR RI, parlemen dari negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, parlemen dari negara anggota G-20 (negara dengan salah satu kekuatan ekonomi & pangsa pasar terbesar di dunia) serta mempunyai anggaran ber-triliun2 rupiah utk gedung baru, lengkap dgn fasilitas & tunjangan lainnya ….  masih memakai alamat email gratis utk kontak terhadap rakyat yg di wakilinya   … ????

Tidakkah mereka berpikir, bahwa parlemen kita akan menjadi bahan olok-olok parlemen Australia begitu melihat kartu nama dengan alamat imel dari Yahoo / Gmail ???

Ketika ditanya alamat kontak mereka, umumnya mereka kebingungan menjawabnya, yang menurut saya sangat-sangat aneh bukan?? Bagaimana mereka mau mendengar aspirasi rakyat yang mereka wakili jika alamat kontak untuk dihubungipun mereka kebingungan menjawabnya ??

Setelah acara diskusi selesai, beberapa dari kami yang tidak puas, langsung menyerbu dan bertanya langsung ke anggota komisi VIII, ada dari beberapa diantara mereka tidak membawa kartu nama!!!  Bagaimana mereka ingin memperkenalkan diri di hadapan anggota parlemen Australia jika kartu nama saja mereka tidak bawa, dan kalaupun ada, mereka mencantumkan alamat imel gratis (yahoo/gmail) sebagai alamat kontak mereka !!!

Pada saat saya mencoba bertanya ke Bapak Karding tentang kunjungan studi banding,  saya tanyakan: “Pak bukankah menjadi paradoks bagi DPR bahwa kunjungan studi banding dalam rangka mengentaskan kemiskinan tapi di saat yang sama DPR menghambur-hamburkan uang rakyat yang akan dientaskan kemiskinannya ???”

Ironis sekali memang ternyata, dan syukur …kalau bukan karena kesempatan ini, saya mungkin hanya bisa mendengar dari media massa tentang perilaku anggota DPR, tapi untuk saat ini saya bisa melihat, mendengar & mengalaminya sendiri di depan mata.

Saat itu kami sempat bingung dan bertanya ke salah satu staff senior KJRI : ” Pak apa memang sudah separah inikah keadaan institusi di negara kita ? ”  beliau menjawab ( dan mencoba berdiplomasi ) : “Maaf dik saya sendiri belum berkecimpung di dunia politik, mengenai komentar, saya pikir, adik bisa lihat sendiri apa yg terjadi tadi” … ( kayaknya beliau juga shock )

Sebagai Penutup :
BTW: Beberapa kawan sebelum pulang kita sempat bercanda “kayaknya abis malem ini kita bakal susah tidur nih … ” dan banyak yang geleng-geleng kepala sampai keluar pintu KJRI, sepertinya kita masih belum percaya dengan apa yg kita lihat.
Entah mau dibawa kemana negara ini, jika para pemegang amanahnya saja tidak kompeten di bidangnya.

Dan memang ternyata benar, sampai sekarang pukul 6:30 pagi pun saya belum bisa tidur … :) bahkan hingga keesokan harinya, seorang kawan berkelakar di milis “Mungkin coba aja imel ini:k0M151d3L4P4n@yahoo.com kali aja mereka ber-Alay ria…hehehe…”
Laporan oleh: Teguh Iskanto
Diedit oleh: Didi Rul

Islam Terpojok, Kemana Umat Islam?


Islam di Indonesia selalu  terpojok  dan  tersudut di tengah gegap gempita pemberitaan  sedangkan umatnya belum  mampu memberikan perlawanan  yang berarti .paling-paling tokoh-tokoh islam hanya mampu memberikan klarifikasi bahwa kelompok atau ” geng ” yang membawa-bawa  nama islam sebagai dasar perjuanganya belum tentu islam yang sebenarnya.

I
slam tetaplah islam,  hanya ada satu islam, hingga saat ini umat islam belum memiliki kesepakatan islam dari kelompok manakah yang paling berhak memimpin umat islam Indonesia.Sepanjang sejarah belum pernah umat islam Indonesia berada dalam satu shaf.

Betul,dulu umat islam negeri ini pernah bersatu dalam barisan ( partai ) masyumi tapi persatuan dan bulan madu itu tidak berlangsung lama hanya karena tidak sefaham dalam pembagian kue kekuasaan perpisahan tidak dapat di hindari.

Bagaimana dengan saat ini, apakah umat indonesia bersatu dalam melawan segala bentuk sistematis yang memojokan agama yang mulia ini ?

Saya merindukan umat islam kompak dalam menahan gempuran media yang cenderung menjadikan islam sebagai kambing hitam tapi apa yang kita  saksikan saat ini jauh api dari panggang.Umat islam tanah air sepertinya gagap dan ragu di dalam menyikapi isu-isu kekinian yang menyangkut islam.

Saya ambil contoh tentang NII , mengapa kita begitu yakin bahwa NII yang di beritakan di media memang seperti itu ? sepanjang pengetahuan  saya  NII memang pernah ada. NII yang asli itu  murni   sebuah gerakan yang bercita-cita menjadikan negeri ini sebagai negara islam bukan NII yang  tipu sana tipu sini.
Pemberitaan tentang NII yang berat sebelah tentu saja membuat para mujahid yang betul-betul bersungguh-sungguh berjuang menjadi kena getahnya .Mereka yang memang berjuang demi tegaknya kebenaran Islam saat ini menjadi pihak-pihak yang di curigai.

Dari dulu sampai sekarang akan selalu ada pihak-pihak yang tidak mau islam berkembang pesat dengan segala daya upaya mereka terus membuat makar agar islam menjadi asing dimata pemeluknya sendiri.Jika mereka bebas bergerak mengapa umat islam tidak bergerak sistematis untuk melawan mereka   ?

Kelemahan  mendasar kita sebagai umat islam adalah ketidakmauan kita untuk berada dalam satu barisan ,OK,lah kita memang berbeda baju dan organisasi tapi itu semua seharusnya tidak membuat kita seperti buih di lautan.Begitu mudahnya umat islam di goyang membuat musuh-musuh  islam semakin berani.

Kelemahan berikutnya belum ada pemimpin islam yang mampu menjadi lem bagi begitu banyak organisasi dan ormas islam. Belum adanya pemimpin islam yang mampu di terima oleh kelompok ” garis keras ” atau pun kelompok ” garis lembut ” membuat masing-masing kelompok berjalan sendiri-sendiri.

Kita memang punya ICMI yang katanya berisi kumpulan manusia terdidik islam.  umat islam indonesia  patut bangga punya  NU yang merupakan  organisasi islam terbesar di dunia. Para alim ulama Indonesia pun punya wadah  MUI  tapi  entah mengapa sampai saat ini kita masih tergopoh-gopoh dalam bersikap ketika ada berita yang memojokan islam ?

Ketika beberapa cendikiawan islam tampil menyatakan sikapnya dalam kasus NII misalnya, harus di akui tidak semua umat islam indonesia sepakat dengan kelompok cendikiawan tersebut.Sekali lagi musuh-musuh islam begitu rapi dalam bersiasat mengapa umat islam menghadapinya dengan perbekalan seadanya

Cukupkah  hanya dengan memberikan klarifikasi lantas itu bubar dan kembali asyik dengan ” proyek masing-masing ” ?

Melihat sikap  umat islam yang tidak pernah mau bersatu ini membuat saya teringat dengan sejarah awal umat islam.harus di akui sejarah itu begitu kelam di mana beberapa sahabat terkemuka berselisih pendapat sehingga menimbulkan perang antar sahabat ?

Apakah umat islam memang di takdirkan untuk tidak pernah dapat bersatu ? sedangkan upaya memojokan islam selalu datang bagai gelombang.Saat ini siapa saja umat islam yang berjenggot apalagi berjubah akan selalu di curigai celakanya  yang mencurigai adalah saudara seakidah sendiri.
Bukankah ini adalah keberhasilan musuh-musuh islam dalam membentuk opini umat islam Indonesia ?

sumber: kompas.com

Terima Kasih Cicak, Selamat Hari Bumi


Sedihnya hatiku ketika menuju kamar mandi lalu kujumpai seekor cicak sedang berusaha keluar dari bak mandi yang penuh dengan air. Tidak serta merta saya menolongnya, saya sempat berpikir bahwa mungkin jika cicak itu bisa berbicara, cicak akan meraung-raung meminta pertolongan. Sama halnya dengan manusia yang jika sedang dalam sumur yang dalam dan tiba-tiba tidak dapat naik, pasti akan berteriak meminta pertolongan.


Walaupun saya berusaha keras agar bisa berkomunikasi dengannya tapi tetap saja tidak bisa. Waktu 
masih kecil saya sering menjumpai hal semacam itu dan terkadang saya jadikan sebagai mainan, airnya saya aduk-aduk hingga cicaknya mabok. Setelah itu saya tertawa dan baru kini kusadari bahwa begitu kejamnyakah saya terhadap cicak-cicak yang malang itu? Ya itulah masa kecil dan kini saya tumbuh dewasa dan mampu berpikir lebih manusiawi.

Tapi malam ini saya berbangga walau hanya menolong seekor cicak. Sesaat setelah kulepaskan cicak itu terdiam beberapa detik. Saya berkhayal, mungkin saja cicak itu mengucapkan terimakasih padaku atau ucapan selamat jumpa. Setelahnya cicak itu pergi dengan segera, mungkin juga takut jika saya berubah pikiran dan menjahilinya.

Sebagai sesama makhluk hidup dan secara kedudukan manusia juga jauh lebih sempurna, maka alangkah baiknya kesempurnaan itu digunakan untuk menyempurnakan yang tidak sempurna pada makhluk hidup lainnya. Bukan malah menghakimi, mengeksploitasi, dan memperlakukan mereka semaunya saja. Bumi kita ini memang sedang sakit karena keseimbangannya yang kian terusik oleh ulah manusia yang tidak bijak. Manusia terlalu sombong dengan kemampuannya di segala hal. Sehingga merasa mampu menindas makhluk hidup lainnya yang besar jasanya tidak terhitung pada manusia.

Manusia bisa bertindak semaunya saat ini tapi secara tidak langsung dan perlahan tapi pasti mereka, makhluk hidup lainnya akan membalas perlakuan manusia. Dapat kita lihat pada beberapa kejadian alam yang manusia hebat dengan teknologi modern pun kewalahan menanganinya dan hanya mampu menangis. Mari, sebagai manusia kita bijak berpikir, bertindak dan mengolah lingkungan juga makhluk hidup di dunia ini.

Terima Kasih Cicak, Selamat Hari Bumi.

Saya Lebih Takut Senior daripada Tuhan

Saat itu kami sedang berkumpul seperti biasa di tongkrongan kami di kampus. Saat itu kira-kira berjumlah 7 orang. Beberapa dari kami ada yang mengerjakan tugas atau sekedar ngobrol ngalor-ngidul. Memang, saat itu utgasnya begitu banyak dan harus dikumpulkan besok pagi.


Selagi kami asik dengan masing-masing kesibukan, berkumandanglah suara adzan maghrib. Sebuah panggilan Allah untuk umatnya. Namun, kami tidak segera beranjak menuju mushalla yang berada disebelah tongkrongan kami untuk memenuhi panggilan itu. Kami tetap melanjutkan kegiatan kami.

Soal makan, bisa ditahan dulu.
Soal haus, bisalah ditahan juga.
Soal rokok, tiada putus terus mengalir.

Tiba-tiba ada seseorang datang.
"Eh, ada yang manggil tuh?"


"Siapa?", jawab kami.


"Dipanggil Allah, lo semua disuruh ke mushalla. Sholat katanya."


"Ah, ntar aja ah. Masih banyak nih tugasnya. Ntar gak selesai. Sholat kan bisa nanti-nanti"


"Ah, ngapain sih solat. Gak bikin kaya ces."


"Astaghfirullah, ayo dong sholat dulu. Jangan lupain ibadah dong."


"Iya iya, ntar gue solat."

Tiba-tiba datang salah seorang teman kami,
"Eh, dipanggil senior tuh. Disuruh kebelakang semuanya."


"Ha? ngapain?",jawab kami.


"Ya disuruh aja kebelakang."

Kami pun bergegas memenuhi panggilan itu.Kemudian orang itu berkata,

"Lha itu senior yang manggil kok langsung gerak?"


"Justru ini yang lebih penting bos. Kalau gak cepat-cepat, ntar mereka kecewa karena kita lama banget kesananya. Bisa-bisa diomelin karena lama banget datangnya. Bisa bahaya. Kalau sholat kan hukumannya ntar-ntar waktu di akhirat, masih lama."


The Power of Football


"Sebelum pertandingan, seluruh keluarga besar sepak bola di Eropa harus berdiri dan bersatu di dalam stadion pekan ini. Kita harus menunjukkan simpati mendalam dan dukungan penuh kepada masyarakat Jepang."
Inilah perintah Presiden UEFA Michel Platini yang diwujudkan dalam bentuk a minute's of silence sebelum laga Liga Champion dan Liga Europa tengah pekan ini.


Platini mengajak anggotanya terus mendukung masyarakat Jepang agar tetap kuat menghadapi tragedi yang mengerikan itu.

"With you Japan". Melalui layar kaca, sungguh kita bisa merasakan kekuatan sepak bola yang menembus segala batas. Pertandingan UEFA Champions League yang dimainkan Selasa dan Rabu, serta UEFA Europa League pada Kamis yang di gelar di Benua Eropa ditujukan untuk mendukung korban tsunami dan gempa bumi di negara Kaisar Akihito.

Di Stadion Anfield, ketika Liverpool menjamu Braga dalam duel Liga Europa (17/3), kita bisa melihat berbagai spanduk dan syal bertuliskan tanda simpati kepada Jepang.

Makna kalimat sakti "You'll Never Walk Alone" pun bak janji kepada masyarakat Jepang bahwa mereka tidak sendirian menanggung derita.

Melalui sepak bola, kita diajak untuk merasakan duka mendalam korban bencana di Negeri Matahari. Seperti halnya sumbangan aktris Hollywood Sandra Bullock sebesar 1 juta dolar Amerika, dunia diminta bersatu meringankan beban masyarakat di sana.

Gempa bumi berkekuatan 9 skala richter yang menimbulkan gelombang tsunami mencapai 10 meter bukan perihal biasa. Duka Kota Sendai jelas mengingatkan kita akan bencana serupa yang melanda Aceh dan Nias pada Desember 2004 dengan kekuatan 9,3 skala richter.

Kepedulian sepak bola terhadap bencana kemanusiaan menunjukkan kekuatan lain olah raga ini. Sadar turnamen miliknya ditonton banyak manusia di muka bumi, UEFA memainkan peran sosial dengan mendorong kepedulian terhadap korban bencana tsunami di Jepang.

Sepak bola telah berulang kali membuktikan mampu menggerakkan orang banyak, menyatukan mereka, baik itu pria dan wanita, anak-anak dan orang tua. Football sudah menunjukkan kekuatan team work, dan kebersamaan itu dapat menghadirkan persatuan serta perdamaian.

Masih ingat kerusuhan di negara ini, khususnya di Ibu Kota, pada Mei 13 tahun lalu? Diawali krisis finansial dan tragedi Trisakti, Jakarta seperti kota mati dan penuh dengan kekerasan. Duka menyelimuti bangsa kita, isak tangis dan teriak minta tolong bak nyanyian Ibu Pertiwi.

Tapi lihatlah apa yang sepak bola berikan untuk mengobati luka kita. Sejak 10 Juni hingga 12 Juli 1998, FIFA menyediakan penawar sakit bernama Piala Dunia yang digelar di Prancis. Memang tidak menghilangkan sakit atau mengembalikan nyawa yang hilang, tapi sepak bola sungguh meredam gejolak yang bisa menambah parah Indonesia.

Sontak, perhatian yang terpusat ke Prancis menjadi alat perekat bangsa yang sungguh rentan terpecah-belah.

Sejumlah tokoh di Republik Demokratik Kongo juga sadar apa yang sepak bola bisa berikan untuk menyatukan bangsa mereka. Perang saudara berlangsung berkepanjangan sejak 1998 telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian negara tersebut.

Sebuah badan bernama Football Inter Communautaire (FIC) mengerti betul kekuatan yang dimiliki sepak bola. Salah satu program mereka bernama "How to use the power of football to educate youth and communities."

Ratusan orang yang berbeda sikap dan paham di Kongo terbukti bisa menikmati pertandingan sepak bola secara bersama-sama dalam sebuah stadion. FIC menyatukan komunitas berbeda dengan memakai kekuatan sepak bola.

Oh ya, seperti apa jawaban Anda bila ditanyakan, "Apakah satu dari sedikit kesamaan antara anak-anak Arab dan yahudi?"

Pernah mendengar nama Forsan Hussein? Anak lelaki ini lahir dan dibesarkan di lingkungan Arab yang tertutup di Israel (sebanyak 20% populasi Arab ada di Israel). Ia hanya mengerti bahasa Arab dan berteman hanya dengan anak-anak di lingkungannya yang tertutup itu.

Suatu ketika, saat Forsan berusia 10 tahun, ia keluar dari kelompoknya dan bertemu anak-anak Yahudi yang bercakap-cakap dengan bahasa yang tak ia mengerti.

Tapi anak-anak itu dengan cepat menyatu dalam "perbincangan" memakai bahasa sepak bola. Ya, bermain dengan si kulit bundar menghancurkan perbedaan itu.

"Ketika anak-anak bermain dalam sebuah tim, mengoper bola di antara mereka, saling memberi dukungan demi tujuan mencetak gol, mereka mematahkan rintangan dan membangun persahabatan kekal," ujar Forsan Hussein yang ketika dewasa bekerja di Soccer for Peace, sebuah yayasan di New York yang rutin mengorganisasikan pemusatan latihan sepak bola bagi anak-anak Arab dan Yahudi.

Bisakah Anda membayangkan setiap Sabtu keluarga Arab dan Yahudi duduk memberi dukungan kepada tim yang sama?

Itulah kekuatan sepak bola. Masih ingat cerita bagaimana Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela memakai football sebagai alat perdamaian dan pemersatu bangsa?

Lalu, kenapa energi dan perhatian kita belakangan ini terkuras oleh pertikaian di dunia sepak bola Tanah Air? Kenapa the power of football di Indonesia pemakaiannya berbeda?

Sepakbola Kita Harapan, Bukan Kematian


"Bung, apakah sepak bola kita menuju kematian?"
Begitu sebuah pertanyaan yang datang dari pembaca BOLA pada Kamis malam kemarin. Pemilihan kata-kata yang sungguh tak terbersit dalam benak saya. Masak sih sepak bola kita menuju kematian?

Tentu tak salah bila ingatan saya kembali kepada sosok Bill Shankly. Mantan pesepak bola era 1920 dan 30-an yang namanya melambung ketika menjadi pelatih Liverpool (1959-74), punya pandangan unik tentang sepak bola.


"Sebagian orang meyakini sepak bola itu tentang hidup dan mati. Saya sungguh kecewa dengan sikap itu. Saya pastikan pada Anda, sepak bola lebih penting dari itu."

Wuih, terkesan menyeramkan, bukan? Benarkah sepak bola lebih vital dari hidup dan mati manusia?

Ketika sepak bola sudah menjadi bagian dalam kehidupan seseorang, makna olah raga ini memang sungguh dahsyat. Sampai-sampai seorang Hugo Sanchez, legenda sepak bola asal Meksiko yang pernah membela Real Madrid, mengajak kita memuja penemu football.

Pernah mendengar nama Anthony Burgess? Dia seorang penulis asal Inggris yang juga mencoba mengaitkan posisi olah raga ini dengan Sang Pencipta. Begini katanya, "Kita punya lima hari untuk bekerja. Hari ketujuh adalah hari Tuhan, sedangkan hari keenam merupakan milik sepak bola."

Lalu, kematian dalam sepak bola membawa saya mengenang nama-nama seperti: Andres Escobar, Marc-Vivien Foe, Robert Enke, Antonio Puerta, hingga Abdon Porte.

Abdon Porte? Bagi kita, sosok ini jelas tak setenar nama-nama yang meninggal dunia terkait sepak bola. Porte lahir tahun 1880 di Montevideo, Uruguay. Semasa membela tim Nacional (1911-18), Porte dikenal sebagai seorang gelandang brilian.

Pers di Uruguay menjulukinya sebagai pemain dengan kaki tiga berkat kekuatan kepalanya. Melihat Porte mulai merangsek maju, bek-bek lawan disebut ketakutan seperti burung melihat kucing datang hendak menerkam.

Porte adalah sosok sederhana, rendah hati, dan tidak bisa menulis. Tapi sebagai seorang pemain sepak bola di Nacional, dia adalah bintang andalan dengan pendapatan 50 pesos, jumlah yang besar saat itu.

Dia kemudian menjadi idola di mata pendukung sepak bola Uruguay setelah membantu negara tersebut menjuarai edisi kedua Copa America (1917) yang digelar di Kota Montevideo, Uruguay.

Tapi, Porte sulit menerima hukum alam. Setelah melakoni ratusan pertandingan bersama Nacional, penampilannya mulai menurun. Kerap kali ia menerima siulan cemooh penonton.

Abdon Porte seperti jatuh dari langit. Ketika pelatih Nacional mulai rutin menempatkannya di bangku cadangan, Porte tak siap melihat orang-orang di sekitar berbisik-bisik membicarakan dirinya, termasuk rekan sendiri.

Ketika usianya belum terlalu senja untuk ukuran sepak bola waktu itu, 38 tahun, ia tak siap melihat kemuliaan berlalu melewatinya tanpa sempat menyapa.

Aneh bin ajaib, setelah lama menjadi pemain cadangan, pada 5 Maret 1918, saat melakoni laga ke-207 untuk Nacional, pelatih mengembalikan Porte ke lapangan Estadio Gran Parque Central. Hari itu ia bermain baik dan membawa Nacional menang 3-1. Tapi keesokan paginya, tubuh Porte ditemukan tergeletak tak bernyawa bersama pistol di dekat tubuhnya.

Tengah malam usai pertandingan, ketika hujan deras dan petis menyambar, Porte memutuskan kembali ke Estadio Gran Parque Central dan mengakhiri hidup di lapangan yang telah membesarkan namanya.

Dalam, surat wasiatnya, pria yang mengawali karier sepak bola profesionalnya di klub Colon itu menyebut tak akan pernah melupakan masa-masa indahnya bersama Nacional dan timnas Uruguay.

Sepak bola telah mengantar Abdon Porte ke panggung mewah yang tak pernah dibayangkannya. Namun semua keindahan dan keagungan itu tak sanggup dilepas dan berakhir pada sebuah keputusan bodoh: bunuh diri.

Kalau sudah begini, bukankah ucapan Bill Shankly menjadi penuh teka-teki?

Eh, ngomong-ngomong, kenapa sih si pembaca BOLA tadi punya pemikiran tentang kematian sepak bola Indonesia?

Tak perlu heran bila ia mengaitkan dengan situasi dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini.  Sang pembaca adalah penduduk Kota Pekan Baru, tempat berlangsungnya Kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding (25-27 Maret).

Dalam SMS yang ia kirimkan, terbersit nada khawatir dan pasrah terhadap masa depan sepak bola di Tanah Air. Ia takut, kegembiraan yang selama ini didapat setiap menyaksikan pertandingan sepak bola berubah menjadi tontonan memuakkan yang menyajikan pertarungan kepentingan sekelompok orang.

"Awak ni," demikian ia menyebut dirinya, "tak peduli dengan spanduk-spanduk kontra dan pro pengurus sekarang. Situasi ini semakin menjijikkan. Lama-lama sepak bola kita main di atas kuburan!"

Hmm, sulit bagi saya membangkitkan kembali kepercayaannya kepada tujuan sepak bola lahir di dunia ini. Sebuah kalimat ampuh saya sampaikan melalui telepon seluler yang malam itu baterainya sudah lemot, "Football is about hope. Jangan pernah berhenti berharap. Jangan pernah putus asa menikmati kemurnian drama-drama sepak bola."

Kapan hal itu akan terjadi di Indonesia? Ah, untungnya kalimat terakhir saya kepada rekan di kota kelahiran saya itu diakhiri dengan kalimat, "Maaf, baterai HP sudah mau habis nih."

sumber: bolanews.com

First Love


pasti semuanya tahu dan pernah merasakan tentang  FIRST LOVE  alias cinta pertama .. tahu atau tidak yang namanya cinta pertama itu apa. cinta pertama bukanlah cinta monyet atau cinta-cintaan anak-anak kecil. cinta pertama adalah dimana kita bisa menemukan kecocokan dan juga ke ‘klik’an dengan pasangan kita.


hmm,berbicara tentang cinta itu sendiri entah itu cinta monyet, cinta pertama, cinta terakhir atau apapun cinta itu dengan embel-embel di belakangnya, cinta apa sebenarnya cinta itu? pertanyaan yang sangat sering sekali di dengar.

kalau boleh saya menyimpulkan sedikit arti cinta itu adalah :
1. perasaan dimana kita  selalu mengingat dan membayangkan seseorang
2. ketika ada seseorang yang bertanya kenapa kau mencintaiku? yang di tanya tadi tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu
3. cinta adalah keadaan dimana bisa menerima semua kelebihan dan juga kekurangan pasangan hidup kita apapun itu *hehehe biasanya aku memang mendefinisikan cinta seperti ini
4. cinta adalah mengalah

dari beberapa definisi di atas tadi kita bisa mengetahui manakah cinta berdasarkan versi pembaca semua. atau bahkan pembaca mempunyai definisi tersendiri

cinta itu sangat indah, dia itu merupakan sebuah kekuatan yang entah darimana asalnya. yang bahkan bisa membuat orang bertekuk lutut, yang bahkan bisa membuat orangg meninggalkan segala-galanya demi cinta. yang bahkan rela mati demi cinta, yang bahkan bisa merelakan pujaan hatinya bahagia dengan orang lain. betapa hebatnya cinta itu. Sebuah kekuatan yang bisa membuat kita tak bisa bergerak apa-apa. sebuah rasa yang sangat dahsyat lebih dahsyat dari tsunami atau apapun. datangnya dari hal yang paling sensitif dari manusia. asalnya dari rasa isi kotak pandora yang di lepaskan di dunia ini. kekayaan seorang umat manusia. hatinya,heart,jiwanya menguasai, raganya merasakan .. begitu hebatnya cinta

Tak pernah aku menyesal. Karena mendapatkanmu adalah sebuah hal yang sangat membanggakan dan suatu pencapaian besar.
cinta pertama mungkin adalah cinta terakhirku, bagaimana dengan kamu?

Apa itu Cinta


Saying I love you,
Is not the words,
I want to hear from you,
It’s not that I want you,
Not to say but if you only knew,
How easy,
it would be to show me how you feel,
Mengatakan aku cinta kamu, bukanlah yang ku ingin dengar dari mu, itu bukanlah yang menyebabkan ku ingin dirimu, bukan kata bahkan jika kau tau, betapa mudah kau menunjukkan perasaanmu padaku. (by westlife)

Cinta, kata yang terdiri 5 huruf dan memiliki makna begitu dalam. Cinta, suatu yang abstrak yang tak dapat diketahui kapan datang perginya. Cinta, merupakan keindahan tiada tara bagi mereka yang merasakannya. Tapi, suatu ketika cinta bisa berbalik menjadi suatu yang begitu menyakitkan di dunia ini.
Cinta, bisa di tujukan untuk manusia, binatang, begitu juga Tuhan Yang Maha Esa. Cinta, ia singgah dimana saja. Cinta dapat membangkitkan jiwa, tapi kadang dapat membunuhnya. Cinta, laksana lentera yang menyinari, tapi ia juga kegelapan yang membutakan. cinta alangkah indahnya hidup dengan cinta. Betapa hampanya hidup tanpa cinta. Semua orang butuh akan cinta. Cinta yang sebenarnya.

Khusus cinta untuk seorang dambaan hati, pelengkap hidup, yaitu pasangan kita. Setiap manusia, apakah dia pria atau wanita pasti akan merasakan jatuh cinta. Impossible jika ada yang mengaku tak pernah jatuh cinta. Dan hanya mereka yang terganggu jiwanya yang tak dapat merasakan manisnya cinta.

“There’s man and woman in this world, and you’ll want a girlfriend someday”.

Hanya ada lelaki dan wanita di dunia ini, suatu saat engkau akan menginginkan kekasih. Begitulah sunnah Tuhan, suatu saat kita akan membutuhkan wanita sebagai pendamping hidup kita. Wanita merupakan perhiasan terindah yang pernah ada di bumi, apalagi wanita sholehah, sebaik-baik perhiasan di dunia. Jikalau ditawarkan pada ku antara intan berlian dengan seorang wanita sholehah lagi cantik merona, pastilah ku memilih wanita sholehah itu. Maka jatuhkanlah cintamu pada seorang yang tepat. Jika tidak, maka there’s only lies,there’s only tears, there’s only fears, and there’s only pain. Hanya akan ada kebohongan, tangisan, ketakutan, dan hanya ada rasa sakit. Karena betapa sulit menyatukan dua kepala yang berbeda menjadi satu. Tapi dengan cinta dan saling mencintai, itu bukanlah hal yang mustahil.

”love is more than word“

Cinta itu lebih dari sekedar kata. Tak dapat di tuangkan dengan kata-kata. Ungkapan kata cinta hanyalah akhir dari perjalanan kita menemukan cinta. Cinta, sejatinya membutuhkan proses yang rumit dan lama, walau kadang datang secepat kilat. Cinta bukanlah kata-kata gombal. Cinta tidak butuh kata-kata lebay. Karena ia tersembunyi di lubuk hati yang paling dalam, sulit di deteksi dan hanya diri sendiri yang tau. Cinta itu dapat di ketahui lewat kelakuan dan perlakuan seseorang pada orang yang ia cintai.

”Love cannot be bought just with pretty words, cause love is sacrifice“

Cinta tak dapat di beli dengan kata-kata manis, cinta adalah pengorbanan. Cinta juga tak dapat di beli dengan uang dan harta. Jika ada seseorang mencintai anda karna harta, maka itu bukanlah cinta. Itu hanya nafsu yang akan hilang dengan hilangnya harta. Cinta itu butuh tumbal, terkadang harus ada yang di korbankan. Cinta itu fantastis, kadang ironis bahkan tragis. Seperti itu lah yang ku tahu tentang cinta.

Nabi Sulaiman dan Semut


Kerajaan Nabi Sulaiman a.s. dikala itu sedang mengalami musim kering yang begitu panjang. Lama sudah hujan tidak turun membasahi bumi. Kekeringan melanda di mana-mana. Baginda Sulaiman a.s. mulai didatangi oleh ummatnya untuk dimintai pertolongan dan memintanya memohon kepada Allah s.w.t. agar menurunkan hujan untuk membasahi kebun-kebun dan sungai-sungai mereka. Baginda Sulaiman a.s. kemudian memerintahkan satu rombongan besar pengikutnya yang terdiri dari bangsa jin dan manusia berkumpul di lapangan untuk berdo'a memohon kepada Allah s.w.t. agar musim kering segera berakhir dan hujan segera turun.

Sesampainya mereka di lapangan Baginda Sulaiman a.s. melihat seekor semut kecil berada di atas sebuah batu. Semut itu berbaring kepanasan dan kehausan. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mendengar sang semut mulai berdoa memohon kepada Allah s.w.t. penunai segala hajat seluruh makhluk-Nya. "Ya Allah pemilik segala khazanah, aku berhajat sepenuhnya kepada-Mu, Aku berhajat akan air-Mu, tanpa air-Mu ya Allah aku akan kehausan dan kami semua kekeringan. YaAllah aku berhajat sepenuhnya pada-Mu akan air-Mu, kabulkanlah permohonanku", do'a sang semut kepada Allah s.w.t. 


Mendengar doa si semut maka Baginda Sulaiman a.s.kemudian segera memerintahkan rombongannya untuk kembali pulang ke kerajaan sambil berkata pada mereka, "Kita segera pulang, sebentar lagiAllah s.w.t. akan menurunkan hujan-Nya kepada kalian. Allah s.w.t. telah mengabulkan permohonan seekor semut". Kemudian Baginda Sulaiman dan rombongannya pulang kembali ke kerajaan. 

Suatu hari Baginda Sulaiman a.s. sedang berjalan-jalan. Ia melihat seekor semut sedang berjalan sambil mengangkat sebutir buah kurma. Baginda Sulaiman a.s terus mengamatinya, kemudian beliau memanggil si semut dan menanyainya: "Hai semut kecil untuk apa kurma yang kau bawa itu?. Si semut menjawab, Ini adalah kurma yang Allah s.w.t. berikan kepada ku sebagai makananku selama satu tahun. Baginda Sulaiman a.s. kemudian mengambil sebuah botol lalu ia berkata kepada si semut, "Wahai semut kemarilah engkau, masuklah ke dalam botol ini aku telah membagi dua kurma ini dan akan aku berikan separuhnya padamu sebagai makananmu selama satu tahun. Tahun depan aku akan datang lagi untuk melihat keadaanmu". Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman a.s.. 

Setahun telah berlalu. Baginda Sulaiman a.s. datang melihat keadaan si semut. Ia melihat kurma yang diberikan kepada si semut itu tidak banyak berkurang. Baginda Sulaiman a.s. bertanya kepada si semut, "Hai semut mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu" "Wahai Nabiullah, aku selama ini hanya menghisap airnya dan aku banyak berpuasa. Selama ini Allah s.w.t. yang memberikan kepadaku sebutir kurma setiap tahunnya, akan tetapi kali ini engkau memberiku separuh buah kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi kerana engkau bukan Allah Pemberi Rizki (Ar-Rozak), jawab si semut. 

Generasi Perokok


Pemerintah sedang disorot pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang rokok. Content RPP yang akan memberlakukan jumlah rokok dalam kemasan hingga gambaran terburuk akibat rokok belum seluruhnya disambut positif.

Bahkan, sejumlah daerah telah memprotes RPP yang tengah digodok Kementerian Kesra itu. Mereka berdalih pembatasan rokok berakibat pada petani tembakau akan kehilangan pendapatan.


Di sisi lain, pemerintah memang perlu berbuat sesuatu untuk menyehatkan rakyatnya dari bahaya rokok kendati harus kehilangan Rp 63 triliun per tahun dari cukai rokok. Apalagi, sejumlah negara telah meratifikasi UU anti tembakau untuk mereduksi pemakaian tembakau dan zat adiktif di negaranya. Jika tidak, Indonesia akan dikucilkan kendati saat ini duduk kepada ketua ASEAN.

Kebebasan merokok dan perilaku merokok menyebabkan jumlah perokok terus meningkat. Sekitar 65 juta dari 235 juta penduduk Indonesia sebagai perokok aktif. Belum lagi hitungan perokok pasif yang umumnya para generasi muda dan kaum pelajar.

Sebagai cotoh perilaku merokok di Aceh. Seorang mahasiswa luar Aceh nyaris tak percaya dengan kondisi sebuah kampus kesehatan di Banda Aceh sangat leluasa bagi perokok. Para mahasiswa dengan bebas dan nyaman membeli rokok di lingkungan kampus. Kantin kampus setempat pun menyediakan semua jenis rokok yang menjadi pilihan mahasiswa. Nuansa merokok sangat kental menyamai pemandangan merokok di pasar-pasar tradisional. Dia tidak habis pikir, di kampus kesehatan, kebiasaan dan perilaku merokok menyamai pasar.

Mahasiswa ini pun menghitung frekuensi merokok tanpa jeda. Rest area atau kantin berubah menjadi arena kompetisi merokok bagi mahasiswa juga staf kampus tersebut. Kepulan asap rokok tak pernah putus dalam interval satu jam. Rokok hampir saja menjadi “kudapan” wajib bagi mereka yang memang menikmati atmosfir merokok, padahal itu masih dalam kawasan kampus kesehatan.

Bunuh Diri
Rokok bukan saja konsumsi mereka yang dewasa atau remaja, tapi juga anak-anak. Anak usia sekolah dasar sudah terbiasa dengan rokok. Bahkan, mereka tak segan meminta orang lain untuk membakar rokoknya. Kalau pun dilarang, mereka dengan santai berkilah bahwa merokok untuk menghilangkan masalah. Merokok telah merambah ke semua lapisan masyarakat dan jenjang usia. Jumlahnya makin bertambah seiring pengaruh iklan rokok yang membohongi publik.

Anak usia sekolah yang sebelumnya perokok pasif, malah jadi perokok aktif. Bukan hal tabu, ketika melihat siswa sekolah santai menikmati rokok saat menuju ke sekolah. Bahkan tanpa merasa bersalah, mereka mengepulkan asap rokok di depan sekolah saat kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung. Sangat bertolak belakang dengan kondisi di era 80-an ketika rokok menjadi “barang haram” bagi anak usia sekolah.

Menurut survei Global Youth Tobacco Survey (GYTS) antara tahun 2004-2006 di enam lokasi sekolah kota besar di Indonesia menemukan 24 hingga 41 persen siswa berusia 13-15 tahun adalah perokok. Bahkan 83 hingga 93 persen anak perokok yang mencoba berhenti merokok tidak berhasil.

Perokok di Indonesia 63 persen adalah lelaki. Konsumsi tembakau menyebabkan 200 ribu orang meninggal dunia per tahun. Satu dari delapan orang meninggal bukan disebabkan langsung atau dialami perokok pasif. Perempuan non-perokok akibat asap rokok di rumah berpeluang 25 persen mengidap penyakit kanker paru-paru.

Mengalihkan sumber dana belanja rumah tangga untuk belanja tembakau berdampak buruk bagi kesehatan keluarga. Survei terhadap 175 ribu rumah tangga miskin perkotaan pada tahun 2004 menyimpulkan bahwa: kepala keluarga yang perokok menimbulkan kemungkinan besar gizi buruk kronis pada anak.

Bukti penelitian yang dilakukan 10 tahun terakhir, 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Seperti kematian disebabkan kanker, penyakit jantung dan pernafasan kronis adalah penyebab utama kematian akibat rokok. Proyeksinya sebuah lembaga penelitian, kematian akibat rokok pada tahun 2015 adalah 50 persen lebih banyak daripada kematian akibat HIV/AIDS (Survei Sosial Ekonomi Nasional: 2004).

Beberapa daerah di Indonesia telah menerapkan peraturan daerah. Selain DKI Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Palembang, dan Bogor telah menerapkan larangan merokok di tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum. Yogyakarta telah menerapkan pajak hingga enam kali lipat dari pajak normal khusus untuk produk rokok. Meskipun, perda tersebut tidak berjalan efektif, paling tidak pemerintah daerah telah berbuat menyelamatkan warganya dari racun, nikotin, dan zat adiktif yang mematikan.

Masalah rokok bahkan telah diharamkan melalui fatwa MUI dan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kedua pimpinan lembaga ini melihat faktor kemudharatan rokok lebih besar daripada manfaat. Merokok merupakan perbuatan tabzir (pemborosan) dan habaits (buruk), Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menyatakan, status haram merokok merupakan tujuan dari syari’ah (maqosidussar’iyyah). Karena, tujuan dari maqosidussar’iyyah di antaranya adalah hifdzunnas (menjaga manusia)

Jika dilihat dari akibat dan peringatan terhadap rokok, tak ada yang menguntungkan. Selain menimbulkan kemudharatan dan pemborosan juga mendatangkan kematian. Rokok tidak membunuh pecandunya secara cepat, tapi perlahan hingga zat racun yang mengendap dalam tubuh perokok menyebabkan kematian secara perlahan tapi pasti. ***

Oleh : Mukhtaruddin Yakob
Penulis adalah Jurnalis dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) Banda Aceh
Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Analisa, Medan, 24 Maret 2011

Nurdin Halid yang Membanggakan


Dalam peta persepakbolaan dunia, Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki penggemar sepakbola terbanyak di dunia. Jumlah pemain sepakbola di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia.
Memang kalau dihitung secara jumlah penduduk, Indonesia cuma terhitung sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar no. 4, setelah Cina, India dan Amerika Serikat.

Tapi masalahnya, di ketiga negara yang jumlah penduduknya lebih banyak dibanding Indonesia itu, sepakbola bukan merupakan olahraga yang sangat penting, yang digemari oleh mayoritas rakyatnya.

Di Cina olah raga perseorangan dan basket lebih menarik perhatian warganya daripada sepakbola. Di India warganya lebih antusias dengan kriket. Sementara di Amerika, secara berturut-turut, Basket, Amerikan Football yang bolanya lonjong dan Base ball lebih menarik perhatian warganya daripada Sepakbola.

Itu tidak terjadi di Indonesia, di negeri ini sepakbola adalah kegemaran semua lapisan warga.
Bahkan untuk Liga Champions, meskipun judulnya UEFA CHAMPIONS LEAGUE, tapi jumlah penonton terbesar Liga paling prestisius sedunia ini ada di Indonesia. Setiap tim yang ambil bagian di Liga Champions habis berlaga, semua media di negeri ini, baik cetak maupun elektronik langsung sibuk mengupasnya.

Di jejaring sosial seperti facebook dan twitter, langsung terjadi perang dunia maya. Meskipun terpisah separuh planet ini dengan klub-klub kesayangannya. Para penggemar klub eropa itu di sini bisa baku hantam karena saling ejek atas prestasi atau kegagalan klub kesayangannya meraih kemenangan.
Contohnya tahun lalu, saya sendiri sebagai salah seorang Interisti begitu puas menginjak-injak kesombongan dan kepongahan Barcelonistas ketika Inter Milan berhasil menjadi Juara setelah sebelumnya di semi final mengandaskan Barca.

Ajaibnya dengan potensi sebesar ini, secara prestasi tim sepakbola, Indonesia terbilang anak bawang yang dalam percaturan sepakbola dunia. Sehingga kehadiran Indonesia bisa dikatakan sama sekali tidak pernah terasa.

Maka tidak heran pula, dalam berbagai publikasi tentang sepakbola, dunia tidak pernah mengenal nama Indonesia. Memang dulu Indonesia pernah membuat kejutan dengan menahan Uni Sovyet dengan skor 0 - 0 di pertandingan Olimpiade yang diselenggarakan di Australia. Tapi sekarang yang masih ingat cerita tersebut cuma orang Indonesia, selebihnya di negara lain kalau orang bicara sepakbola, orang tidak pernah tahu kalau nama Indonesia ada.

Tapi hari-hari belakangan ini semua berubah, sekarang nama Indonesia menjadi di kenal luas di dunia dalam kaitannya dengan sepakbola. Sampai-sampai ketua FIFA pun menunjukkan perhatian langsung, bahkan media sekelas Worldfootballinsider.com pun merasa perlu menurunkan laporan khusus tentang Indonesia.

Lalu siapa aktor yang membuat nama Indonesia berkibar di pentas dunia sepakbola ini?…Tim Nasional?…Bukan!@, Bambang pamungkas?, Markus Horison, Gonzalez, Firman Utina?, Irfan Bachdim?…semua salah.

Pahlawan itu bernama NURDIN HALID, sosok ketua PSSI tercinta .

Jadi sebagai rakyat sekaligus pecinta sepakbola Indonesia, kita semua selayaknya berbangga pada Nurdin Halid, sebab sepanjang sejarah Sepak Bola, dialah orang pertama yang berhasil membuat NAMA INDONESIA menjadi terkenal di PANGGUNG SEPAKBOLA DUNIA.

Selanjutnya “For all you Nurdin Halid fans out there, Indonesia story coming soon on worldfootballinsider.com”, tulis James Corbett di Account Twitternya.

 
hostgator coupon