Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

Tragedi Trisakti adalah peristiwa penembakan, pada 12 Mei 1998, terhadap mahasiswa pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta, Indonesia serta puluhan lainnya luka.

Saatku Patah Hati

Patah hati. Momen terburuk yang pasti dialami hampir setiap orang yang pernah jatuh cinta. Inilah ceritaku saat patah hati.

Info UMB 2011

Musim ujian masuk tahun ini telah datang. Ada berbagai jalur yang disediakan oleh masing-masing universitas, ada yang melalui SNMPTN Undangan, SNMPTN Tertulis, Ujian Lokal, ataupun Ujian Masuk Bersama.

Galeri Foto Final Liga Champions 2010/2011

arcelona mengukuhkan dirinya sebagai raja Eropa setelah mengalahkan Manchester United 3-1 di final Liga Champions. Stadion New Wembley menjadi saksi bisu kedigdayaan tim catalan malam itu. Berikut beberapa foto pertandingan tadi malam

Bersiaplah Menghadapi SIMAK UI

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) baru saja usai. Lebih dari 500 ribu pelajar dari berbagai pelosok nusantara bersaing untuk merebut bangku perguruan tinggi negeri (PTN)

Showing posts with label Arema. Show all posts
Showing posts with label Arema. Show all posts

Nyatakah Universalitas Aremania?

Ketika membaca artikel aremasenayan.com yang berjudul Universalitas Aremania saya tertarik dengan kalimat ini.
Ono malah sing kadit osi ngomong owoj tapi gak pernah absen ke stadion setiap arema Niam. Di luar Malang, bahkan ada yang tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di Malang, namun bangga beridentitas sebagai Aremania.


Kenapa saya tertarik? Mungkin ini bisa menjadi salah satu bukti dari universalitas Aremania. Ya, karena saya bukanlah orang asli Malang. Saya justru lahir di Bandung dan besar di Pekanbaru, Riau. Saya sempat menggemari Persib Bandung dan PSPS Pekanbaru. Terutama ketika PSPS membentuk The Dream Team di awal-awal tahun 2000-an.(FYI, umur saya sekarang 19) Namun, saya tidak menemukan sesuatu yang membuat saya benar-benar setia terhadap dua tim itu. Kemudian perhatian saya tertarik kepada sebuah tim, yaitu Arema.

Apa yang membuat saya tertarik dengan Arema? Kebetulan saya mempunyai kakak laki-laki yang kuliah di Malang. Dari dialah saya menerima cerita-cerita mengenai Arema. Dan tahukah apa yang selalu diceritakan? Tentang AREMANIA.

Itu lah yang membuat saya mulai tertarik dengan Arema. Kreatifitas serta keloyalitasan Aremania yang terus diceritakan oleh kakak saya itu seolah menyita perhatian saya. Memang benar apa yang ditulis di artikel tersebut bahwa yang menjadi magnet warga luar Malang ada 3 faktor,




  • Kreatifitas Aremania. Dalam setiap laga kandang dan tandang, dimana Aremania selalu memberikan dukungan dalam bentuk atraksi yang menarik, nyanyian dan lagu2 yang memberikan semangat dan menghibur, tarian yang atraktif.
  • Sportifitas Aremania. Kalah dan menang adalah bagian dari permainan, dan setiap kemenangan adalah kado terindah bagi Aremania, sedangkan kekalahan bukanlah menjadi alasan untuk membuat ulah dan kerusuhan seperti yang dilakukan beberapa kelompok suporter lain dan uniknya, media seolah-olah sangat hobi sekali untuk mengekspose hal hal semacam ini (kerusuhan suporter) dibanding persahabatan suporter.
  • Pesan Damai. Aremania selalu membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun suporter team Tamu yang berkunjung ke Malang. Dan hal ini tentunya berbalas dengan sambutan meriah mereka jika Aremania berkunjung. Lambat laun, hal ini menjalin persahabatan yang semakin meluas, sehingga hampir di semua tempat di negeri ini, Aremania adalah sahabat yang baik. Mereka datang dengan damai, membeli tiket dengan tertib, dan pulang tanpa meninggalkan jejak kerusuhan.


  • Saya mulai menonton Arema berawal saat final Copa Indonesia 2005, saya melihat aksi Firman Utina sampai sekarang yang saya sepertinya telah benar-benar cinta mati pada Arema.

    Saya tidak bisa berbahasa jawa namun saya bisa mengerti saat orang berbicara jawa. Saya pernah ke Malang, namun saya belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Gajayana ataupun Kanjuruhan. Namun, saya benar-benar bangga beridentitas Aremania.

    Saya sempat bergabung dengan Aremania Pekanbaru dan nawak-nawak yang semua memang asli Malang menerima saya dan menempatkan saya sebagai saudara mereka juga. Padahal terhitung saya bukan asli ngalam dan saya tidak bisa berbahasa jawa.

    Sekarang saya berada di Jakarta, saya ingin sekali bergabung dengan saudara-saudara saya yang bergabung di Arema Senayan. Namun keterbatasan waktu dan transportasi terus menghalangi saya untuk bergabung dengan mereka yang sudah saya anggap saudara meski belum pernah bertemu.

    Sekarang, yang saya tanyakan. Apakah kalian, Aremania yang benar-benar asli Malang bisa betul-betul menerima orang-orang seperti saya, Aremania yang bukan asli Ngalam? Apakah nantinya kalian bisa memperlakukan kami dengan hangat seperti ketika kalian saling bertemu sesama Kera Ngalam?

    Kalau terbukti bisa, maka universalitas Aremania pun semakin benar adanya. Rasa cinta saya pun akan semakin besar dan saya menjadi semakin yakin dengan slogan "Salam Satu Jiwa" yang diiringi dengan perbuatan nyata, virus persatuan serta jiwa dan semangat Aremania mampu mempengaruhi seantero negeri yang kita cintai ini.

    Salam Satu Jiwa, Arema Indonesia

    Peresmian Aremania Korwil Pekanbaru


    Setelah melalui perjuangan panjang dari nawak-nawak Aremania Pekanbaru dengan mengumpulkan dikit demi sedikit. Puji syukur Alhamdulillah, khirnya impian untuk mendirikan suatu korwil telah tercapai. Peresmian Korwil Aremania Pekanbaru pada tanggal 9 Januari 2011

    Berikut adalah momen-momen yang tertangkap kamera saat peresmian Korwil Aremania Pekanbaru
    DSC00429jam 14.00 Aremania mulai berdatangan ketempat acara peresmian
    DSC00462Tamu undangan Asykar Theking
    DSC00443The Jak mania
    DSC00473Jak Angel
    DSC00471Dua sejoli……
    DSC00474….???????
    DSC00514Pengurus..
    DSC00519Photo sesion.
    .DSC_0091Potong Timpeng Ketua (sam Sugeng)
    DSC_0096Potong tumpeng Penasehat (sam Kris)
    DSC_0099Potong tumpeng Wakil Ketua (sam Santo)
    DSC00506
    DSC00487 
    DSC00504
    DSC00522
    DSC00569
    Begitulah keakraban yang terekam kamera. Semoga dengan berdirinya Korwil ini bisa lebih menjalin keakraban sesama Aremania di pekanbaru dan kelompok suporter yang lain. Dengan berdirinya Korwil ini diharapkan bisa berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang lain di daerah Pekanbaru dan Sekitarnya.
    Terima kasih.

    PSSI Dibekukan, Arema Tekor

    Menyusul pembekuan PSSI oleh Menpora Andi Mallarangeng, termasuk menarik semua aset-aset yang digunakan PSSI pimpinan Nurdin Halid, ternyata Arema Indonesia mengaku sangat dirugikan dengan pembekuan ini.


    Menurut Pelaksana Harian PT Arema Indonesia, Abriadi Muhara, yang juga merangkap asisten manajer klub Singo Edan, pembekuan PSSI menjadi bukti pemerintah tidak adil.



    “Seharusnya Menteri Negara Pemuda dan Olahraga jadi penengah yang baik, yang bisa memberikan solusi yang adil bagi semua pihak. Sekarang masalah jadi tambah rumit karena yang rugi kita semua,” kata Abriadi Muhara, Selasa (29/3) seperti dilansir dari tempointeraktif.


    Kerugian terbesar dialami klub-klub peserta semua kompetisi di bawah naungan PSSI, khususnya bagi Arema, Persipura Jayapura, dan Sriwijaya FC.


    Ketiga klub papan atas ini tak hanya bermain di Liga Super Indonesia (LSI), tapi juga bermain di tingkat Asia. Arema berlaga di Liga Champion Asia (LCA), sedangkan Persipura bertanding di Piala AFC—satu tingkat di bawah LCA.
    Abriadi menegaskan, “Arema, Persipura, dan Sriwijaya itu tidak hanya mempertaruhkan nama klub dan kebanggaan pendukungnya, tapi juga membawa nama negara ke pentas dunia. Ini kan pertaruhannya besar sekali bagi masa depan persepakbolaan kita.”


    Khusus Arema, kerugian yang dialami Arema bersumber dari kemungkinan hilangnya pemasukan besar dari penjualan tiket pertandingan di saat Arema sangat membutuhkan dana besar untuk membiayai operasional klub yang akan berulang tahun ke-24 pada 11 Agustus mendatang itu. Gara-gara kantong bokek, manajemen harus berlama-lama membayar gaji pemain.


    Akibat pembekuan, laga Arema melawan Persib Bandung pada Jumat (1/4) pun terancam batal. Kalau batal, maka Arema bakal kehilangan pendapatan bersih antara Rp 700 juta sampai Rp 800 juta dari pendapatan kotor sekitar Rp 1 miliar.
    Sebagai gambaran, dari partai melawan Persipura (Minggu, 6/2), Arema membukukan pemasukan kotor sebesar Rp 1,1 miliar dari penonton sebanyak 36.942 orang, dengan pendapatan bersih Rp 600-an juta. Waktu itu Arema menang 1-0.


    Dari laga melawan Persiwa Wamena (Kamis, 10/2) mengantongi Rp 700-an juta dari 24.425 orang penonton. Arema menang telak 3-0. Sedangkan dari menjamu Sriwijaya pada Minggu (27/3), yang berakhir imbang 1-1, Arema mendapat pemasukan bersih Rp 600-an juta pula.


    Target mengantongi fulus hingga Rp 1 miliar sebenarnya sudah dicanangkan Arema sejak Jumat, 13 November 2009. Target itu dipasang untuk tiap laga akbar (big match) di Stadion Kanjuruhan.


    Hasilnya, dalam kurun 30 September sampai Desember 2009, Arema mengantongi pendapatan kotor Rp 3,2 miliar yang bersumber dari tiga laga ujicoba dan enam pertandingan LSI. Arema mengantongi pendapatan kotor Rp 2,4 miliar, dengan pendapatan bersih Rp 1,7 miliar dari sisa enam pertandingan kandang.
    Setelah dipotong untuk pembayaran komisi Rp 102 juta, biaya kandang Rp 675 juta dan biaya lain sebesar Rp 325 juta, maka total pendapatan bersih yang dibukukan sebesar Rp 2,1 miliar.

    Arema sangat mencemaskan dampak terburuk dari pembekuan PSSI, yakni sanksi pembekuan status keanggotaan Indonesia di jagat persepakbolaan oleh FIFA karena FIFA menilai intervensi pemerintah sudah keterlaluan. Pemerintah dinilai sudah tak lagi mengedepankan nilai-nilai suportivitas.
    “Kalau itu yang terjadi, maka yang dirugikan semua komponen persepakbolaan kita. Khusus Arema, yang paling dirugikan dari keputusan pemerintah itu adalah Aremania (suporter Arema) sendiri,” kata dia.


    sumber: arenaku.com

    Yuli Sumpil, The Conductor


    Bagi yang belum mengenal Yuli Sumpil, tokoh dalam The Conductors, film dokumenter teranyar karya Andi Bachtiar Yusuf. Berikut ini adalah tulisan Antariksa yang ada di aremania.web.id yang mudah-mudahan bisa memberikan informasi tentang sosok dan keseharian Yuli Sumpil.


    The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).
    “Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”
    Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.
    Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.
    Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.
    Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.
    Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.
    Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.
    Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
    Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.
    Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.
    Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.
    Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.
    Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.
    Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.
    Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”
    Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.
    “Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.
    Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.
    Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.
    Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.
    Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.
    “Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.

    baca juga: Yuli Sumpil, Konduktor Ribuan Aremania

    Yuli Sumpil, Konduktor Ribuan Aremania


    Yuli Sumpil. Demikian lajang kelahiran 14 Juli 1976 ini biasa dipanggil rekan-rekannya sesama Aremania, pendukung fanatik Arema Indonesia. Sumpil menunjukkan kampung tempat ia tinggal, yakni di Jalan Sumpil Gang I, RT 3/RW 4 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Pemuda nyentrik ini memiliki ciri khas anting-anting di kedua kupingnya, topi yang tak lepas dari kepala, dan mengenakan kaus Aremania. Ia selalu semangat dalam membela klub berjuluk ‘Singo Edan’ itu.

    “Saya biasa disebut Yuli Sumpil untuk memudahkan dalam mengenal saya,” tegasnya Yuli kepada Media Indonesia di rumahnya, Selasa (1/2).


    Yuli mengawali kiprah sebagai Aremania sudah cukup lama, sejak kelas 5 SD. Ia selalu hadir di lapangan untuk mendukung klub kesayangannya waktu masih berkiprah
    di Galatama. Yuli pun mengenang. Kendati tidak memiliki uang untuk membeli tiket, ia tetap berusaha menonton pertandingan secara langsung di Stadion Gajayana Kota Malang. Caranya, dengan ikut penonton dewasa yang bertiket agar bisa masuk di stadion. Menonton pertandingan sepak bola seperti itu dilakoninya hingga SMP.




    Rubrik Sosok - Media Indonesia

    Ketika usianya beranjak remaja, Yuli semakin berani dan bersemangat. Ia sering nekat meloncat truk agar sampai di kota tujuan tempat Arema berlaga. Dari sinilah, bersama kawan-kawannya yang nekat, kemudian muncul istilah bondo nekat (bonek). Sebab untuk bisa melihat pertandingan, segala cara dilakukan. Kadang menyerobot
    masuk, menjebol pintu, dan memanjat tembok. “Saya sudah pernah menjadi suporter pemanjat tebing. Sebab untuk melihat pertandingan harus memanjat tembok atau memanjat pohon dari luar stadion,” katanya.

    Seiring perjalanan waktu, Yuli dan rekan-rekannya ingin mengubah pemikiran bahwa sebagai suporter hendaknya tidak menjadi momok bagi warga Malang sendiri. Tujuan utama menjadi suporter adalah memberikan dukungan moral setiap pertandingan Arema melalui kebersamaan, kekompakan, sekaligus menjaga keamanan dan ketertiban. Yuli menjadi bagian dari Aremania yang berkomitmen agar tidak terjadi kerusuhan di setiap pertandingan. Memberikan dukungan secara tertib dan cantik di stadion terus dilakukannya. Bahkan ketika Arema kalah menjamu tim tamu, Aremania tidak lantas membuat onar. Sebab mereka berpikir kalah dalam pertandingan itu sudah biasa. “Tapi jangan sekali-kali mengganggu Aremania.”

    Bisa mendampingi Arema di setiap pertandingan dimaknai sebagai kebanggaan. Berkat perannya yang bisa mengoordinasi Aremania, sejak 1998 hingga sekarang Yuli dipercaya menjadi dirigen. Tugasnya jelas menyemangati pemain Arema dengan teriakan dan lagu heroik versi Aremania. Peran Yuli dalam menyatukan ribuan Aremania memang sangat vital. Sebaliknya, Aremania sudah terlanjur cocok dengan gaya dia yang mampu memadukan lagu dan gerakan dalam menyemangati pemain Arema. Rasanya tidak lengkap bila pertandingan Arema tanpa kehadiran Yuli di stadion.

    Gerakan sosial
    Suatu ketika manajemen Arema kesulitan dana. Yuli bersama kawan-kawan Aremania lainnya membantu sekuat tenaga untuk menggalang dana. Ia rela ngamen dan menggelar diskusi. “Menjadi suporter tidak hanya bicara, tapi juga turut berbuat dalam membantu setidaknya meringankan beban manajemen klub,” katanya. Tidak itu saja, berkat peran Yuli ketika bencana alam Gunung Merapi meletus, Aremania turut peduli dengan menyumbang sejumlah dana. Di mata Yuli, sudah tidak zamannya lagi suporter itu hanya
    hura-hura. (M-1)


    Jual Cincin Tunangan
    Popularitas Yuli menjadi dirigen tidak selancar dalam kehidupan pribadinya. Bayangkan, ia pacaran sebanyak 78 kali, dan seluruhnya putus alias gagal. Baginya, mungkin pacaran nomor dua. Yuli mengaku semua jiwa raganya lebih untuk mengabdi kepada Arema. Harapannya hanya satu, agar klub kesayangannya itu tetap eksis, dan bisa menjadi kebanggaan Aremania. Mampu membuktikan diri berkiprah di internasional sekaligus mengharumkan masyarakat Malang dan Indonesia. Itu sebabnya Aremania dijuluki ‘Tidak kemana-mana, tapi ada di manamana’. Bagi Yuli semboyan semua untuk satu, satu untuk semua, selalu dipegang teguh. Salam satu jiwa memiliki makna sangat dalam untuk menyatukan Aremania yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

    Sebagai bentuk loyalitas tanpa batas terhadap Arema, Yuli Sumpil pernah hadir di Pekanbaru untuk memberikan dukungan sekaligus mengikuti detik-detik Arema Indonesia sukses menjadi juara Djarum Indonesia Super League (ISL) 2009/2010. Anak asuh Robert Alberts mengunci gelar pada pertandingan ke-33 setelah menahan imbang tuan rumah PSPS Pekanbaru. Yuli sengaja membulatkan tekat berangkat ke Pekanbaru meski bermodal uang dari menjual cincin tunangan seharga Rp800 ribu. Ditambah uang tabungan sehingga terkumpul Rp1.200.000. “Saya puas meski menjual cincin tunangan untuk menyaksikan detik-detik Arema juara,” katanya.

    Tentu saja, pengorbanan itu ditebus dengan gagalnya pertunangan dengan gadis yang akan dipersuntingnya tersebut. Namun hal itu tidak menjadi beban frustrasi bagi Yuli Sumpil. Sebab kecintaan terhadap Arema melebihi segalanya. Semangat Yul, sukses selalu.


    Baca juga: Yuli Sumpil, The Conductor

    Sejarah Stadion Gajayana Malang


    Hampir semua penggemar sepakbola di Indonesia mengetahu jika Stadion Gajayana Malang sekarang ini adalah homebase Persema di Liga Primer Indonesia(LPI). Bahkan ada yang menganggap stadion Gajayana ini milik Persema.
    Anggapan Stadion Gajayana milik Persema adalah tidak benar. Stadion Gajayana dibangun dengan dana puluhan ribu gulden pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pembangunan Stadion Gajayana ini dirangkai dengan pembangunan dua lapangan luar Stadion dan satu buah kolam renang berstandar nasional yang dikenal dengan nama Swembat.
    Awalnya stadion Gajayana hanya berkapasitas sekitar 5000 penonton(kurang dari separuhnya berada di tribun yang kita kenal sebagai tribun VIP sekarang ini). Stadion Gajayana baru merasakan pemugaran hebat di tahun 1990-1992 seiring dengan penambahan kapasitas stadion menjadi 17.000 penonton.
    Pemugaran Stadion ini didanai oleh PT Putra Arema yang dikomandoi Ir Lucky Acub Zaenal atau yang akrab disapa sebagai Sam Ikul. Dana pemugaran stadion totalnya mencapai 3 Miliar rupiah dan hampir seluruhnya berasal dari kantong pribadi Sam Ikul. Sam Ikul melego salah satu rumahnya di Jl Besar Ijen seharga 2 Miliar rupiah sebagai salah satu sumber pendanaan dari PT Putra Arema. Tak cukup dengan itu, kabarnya Sam Ikul melego beberapa mobil pribadinya untuk membantu pemugaran stadion.
    Pemugaran dimulai seiring berakhirnya Galatama 1989/1990. Ratusan pekerja(kabarnya mencapai lebih dari 200orang) dikerahkan setiap harinya agar proyek bisa diselesaikan tepat waktu. Semakin lama proyek diselesaikan akan mengakibatkan pembengkakan dana yang tidak perlu. Apalagi dana 3 Miliar rupiah ketika itu sudah lebih dari cukup untuk mendanai Arema selama 3-4 musim kompetisi.
    Agar selesai tepat waktu pemugaran stadion ini mendapat dukungan dari banyak pihak baik moril maupun materiil. Nirwan D. Bakrie yang pernah membangun Stadion Sanggraha Pelita Jaya di Lebak Bulus juga memberikan bantuan bagi PT Putra Arema. tak tanggung-tanggung lewat Bakrie & Brothers bantuan diberikan juga dalam bentuk tenaga teknis. Semata-mata untuk memberikan bantuan teknis kepada Sam Ikul yang kurang memiliki pengalaman dalam menangani proyek besar dan sebagai kontraktor khususnya.
    Seakan menjawab do'a dan harapan dari Sam Ikul akhirnya stadion yang pernah memiliki salah satu kualitas rumput terbaik seIndonesia di jaman Hindia Belanda ini selesai lebih cepat dari waktu yang ditargetkan. Bayangan buruk bahwa Arema bakal lebih lama memakai Stadion Brantas Batu bisa dilenyapkan. Dengan adanya stadion yang baru dipugar dan kapasitas yang lebih besar memungkinkan Arema memiliki pendapatan lebih dari sektor tiket penonton.
    Di era Galatama selain sponsor dan donatur pendapatan dari tiket penonton sangat diandalkan. Selepas Arema memakai Stadion Gajayana yang baru dipugar harga tiket ketika itu sebesar 2000 rupiah untuk ekonomi dan 3500 rupiah untuk VIP. Dengan jumlah penonton mencapai lebih dari 150ribu orang untuk satu musim Galatama di tahun 1992/1993, Arema bisa memperoleh pendapatan kotor lebih dari 300juta rupiah dalam satu musim kompetisi.
    Angka tersebut cukup besar untuk memberi nafas sejenak kepada Arema selama mengarungi kompetisi Galatama sekalipun tidak cukup untuk 'mbandani' pengeluaran klub selama semusimnya.
    Lewat proyek pemugaran stadion Gajayana ini Arema mendapat kompensasi berupa pengelolaan stadion selama 20 tahun(Sumber : Arema Never Die karangan Abdul Muntholib). Katakanlah kerjasama itu dimulai dari tahun 1990 maka semestinya Arema masih bebas memakai stadion tersebut hingga tahun 2010.
    Namun tidak sampai akhir kerjasama tersebut Arema terpaksa hengkang untuk menggunakan Stadion Kanjuruhan sebagai homebasenya. Semestinya jika memang kerjasama awalnya menyatakan demikian Arema bisa meraup pendapatan signifikan dari Stadion Gajayana. Apalagi di tahun 2009 pendapatan APBD Malang dari Stadion Gajayana mencapai ratusan juta rupiah dan dapat ditingkatkan menjadi 1-2 Miliar rupiah jika Arema dapat mengelolanya secara penuh.
    Meski Arema sampai dengan saat ini masih memakai Stadion Gajayana untuk latihan dan ujicoba, terakhir kali Arema merasakan berkompetisi di Stadion ini adalah di tahun 2007 ketika melakoni Liga Champions Asia dan Copa Indonesia. Untuk level sekelas liga Indonesia Arema terakhir memakainya di awal tahun 2006 melawan PSMS Medan sebagai tuan rumah.
    Banyak memori indah yang diukir Arema di stadion ini. Arema meraih juara Galatama di tahun 1992/1993 ketika memakai Stadion Gajayana sebagai homebasenya. Itu adalah trophy pertama Arema yang diraih pada kejuaraan resmi. Trophy berikutnya hadir ketika turut serta menjadikan Stadion Gajayana sebagai homebase Arema di Copa Indonesia 2005 dan 2006.
    Di era kepemimpinan H. Soesamto sebagai walikota Malang, Stadion Gajayana Malang juga mendapat 'sentuhan' pemugaran dengan penambahan lampu stadion di tahun 1996-1997. Proyek ini memakan biaya 2 Miliar rupiah dan baru selesai ketika Persema menjamu Persipura di tahun 1997. Tiang dan lampu ini sampai sekarang masih digunakan di Stadion Gajayana.
    Selepas berakhirnya walikota H. Soesamto di tahun 1998 nyaris tidak ada proyek lagi berkaitan dengan Stadion Gajayana. Di era kepemimpinan walikota Suyitno, Arema dan Aremania beberapa kali melayangkan permintaan untuk pemugaran Stadion untuk penambahan kapasitas penonton. Kapasitas tempat duduk yang sebesar 17ribu tersebut tidak cukup menampung massa dan seringkali penonton meluber hingga sentelban. Di sepanjang kompetisi kondisi ini jamak terjadi ketika Arema bertanding. Untungnya PSSI tidak memberikan sanksi ketika itu karena tiadanya peraturan yang mengatur tentang luberan penonton didalam pertandingan.
    Asa sempat menyeruak tatkala walikota berikutnya, Drs. Peni Suparto memberikan janji untuk memperbesar kapasitas stadion dimana kondisi tribun ekonomi yang semula 10trap menjadi 14trap. Perbesaran kapasitas ini memungkinkan Stadion memiliki daya tampung hingga lebih dari 22ribu penonton.
    Sayangnya janji tersebut tidak dapat direalisasi dengan alasan sama dengan yang sebelumnya, keterbatasan dana. Sampai adanya Mall Olympic Garden(MOG) yang pembangunannya sepaket dengan pemugaran stadion Gajayana dan penambahan kapasitas tribun hingga diatas 30ribu penonton.
    Agaknya peran swasta tidak dapat dilepaskan dari pembangunan Stadion Gajayana. Tanpa peran Sam Ikul dan lainnya Stadion ini tidaklah semenarik seperti yang sekarang kita saksikan. Ditunggu kiprah dan sumbangsih Persema dan Ngalamania nantinya untuk melestarikan Stadion Gajayana ini. 

     
    hostgator coupon